Tidak terasa Bulan Juni kembali tiba.  Jikalau semua orang sibuk dengan Jakarta Fair, ingatanku di Bulan Juni selalu dan hanya untuk Bung Karno. Bung Karno, sosok sakti yang lahir dengan nama Kusno di Surabaya, 6 Juni 1901. Ia terlahir dari pasangan Raden Soekemi Sosrodiharjo dan Ida Nyoman Rai yang sama-sama keturunan ningrat. Raden Soekemi Sosrodiharjo keturunan Kerajaan Mataram yang juga konon katanya masih keturunan Sunan Kalijaga. Sedangkan, Ida Nyoman Rai adalah keturunan Kerajaan Singaraja.

Semasa kecilnya, Bung karno dibesarkan di Blitar, Jawa Timur. Ia diasuh oleh rewang keluarga bernama Sarinah. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Sarinah-lah yang menempa dan mengasah mental Soekarno kecil. Saat masa kecilnya tersebut, ada mitos yang menyebutkan bahwa air ludahnya bisa menyembuhkan penyakit.

Menginjak remaja, ketika berumur 14 tahun Soekarno sudah mulai menunjukkan kenakalan dan keberaniannya. Sebagai laki-laki ia tergolong istimewa di masa tersebut, ia berani memacari putri-putri orang Belanda yang notabene merupakan penjajah di Nusantara. Dari beberapa sumber yang dihimpun oleh penulis, gadis Belanda yang pernah dikencani adalah Rika Meelhuysen yang juga katanya gadis pertama yang diciumnya. Suatu ketika, tatkala kedua pasangan tersebut sedang memadu kasih menggunakan sepeda ontel. Tiba-tiba, mereka kepergok oleh Sang Bapak, Raden Soekemi. Namun, Raden Soekemi tidak marah sedikitpun. Oleh Bapaknya, Soekarno malah diminta untuk sering bergaul dengan orang Belanda agar Bahasa Belandanya semakin bagus.

Selain Rika, ada juga Paulina Gobee, Laura, serta Mien Hessels yang masuk dalam daftar wanita Belanda yang pernah menjalin hubungan dengannya. Diantara sekian banyak wanita, Mien adalah sosok yang benar-benar membuat Soekarno kasmaran. Karena saking cintanya, ia nekat melamar Mien dan menemui sang ayah, Tuan Hessels. Namun, bukannya mendapat sambutan yang baik, malah cacian yang didapatkannya.

Sejak saat itu, Soekarno semakin menaruh dendam yang amat membara kepada orang-orang Belanda. Cacian tersebut ia gunakan sebagai pelecut semangat untuk membasmi kolonialisme di Nusantara. Soekarno merasa terbakar semangatnya untuk membawa kaum pribumi bisa sejajar dengan bangsa lain.

(Bersambung . . . . )