Oleh Daman Huri

Sejak siang, hujan terus mengguyur Kota Malang. Sesekali gerimis, sesekali lebat. Memang di sekitar bulan Januari-Pebruari hujan hampir menjadi tontonan harian bagi warga Malang. Seperti hari itu, Malang yang dingin terasa semakin dingin dengan gerimis yang tak kunjung  menuntaskan hajatnya. Meski begitu, suasana  Jumat Malam (12/2) di markas Averroes Community (AC) di Pondok ABM Permai Kav-A3 Mojolangu Kota Malang, nampak ramai. Bahkan semakin malam semakin ramai. Memang setiap dua minggu sekali di hari Jumat Malam, sekretariat NGO’s itu menjadi jujugan anggota komunitas AC berikut teman dan rekan.

Sulit memang untuk menyamakan kegiatan istighotsah di AC dengan di tempat lain yang pernah kujumpai di kampung-kampung.

Menurut, Sutomo,  salah seorang jamaah yang juga aktivis Averroes, menyatakan bahwa Istighotsah adalah ism masdar yang berasal dari istaghaatsa-yastaghiitsu -istighaatsatan yang artinya, permintaan pertolongan.  Tomo, panggilan akrab alumnus UIN Malang juga menjelaskan bahwa esensinya, istighotsah adalah sebuah aurat, senjata, dan upaya terakhir bagi seorang hamba ketika semua jalan telah buntu dan tak ada kekuatan di dunia ini yang mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

“Istighosah itu adalah memohon pertolongan kepada Allah swt. agar diberi keselamatan, kebaikan, serta kemudahan atas segala permasalahan dalam hidup” demikian ujar pria beranak satu ini.

Senada dengan hal itu, Romdhon Nawawi, Imam Istighotsah malam itu memberikan penjelasan bahwa Istighitsah awalnya adalah ritual yang berkembang di kalangan santri (nahdliyin). Pada perkembangnya Istighosah telah tren di masyarakat, khususnya untuk mengisi kegiatan rohani atau digunakan sebagai media untuk mengumpulkan orang. Apapun tren yang digunakan, istighotsah adala sebuah do’a. Sekelompok orang digusur rumahnya, mereka beristighosah. Rumah terendam lumpur, merekapun beristighosah. Sampai-sampai ketika ada murid yang kesurupan. Istighosah adalah media untuk  mengadu kepada Yang Kuasa.

Romdhon menambahkan bahwa inti dari istighosah adalah permohonan penuh sungguh kepada Allah agar diberi kemudahan dan jalan keluar dari segala masalah, diberi kebaikan dan petunjuk seperti halnya orang-orang yang dikasihi-Nya. Memang tak salah, karena do’a-do’a yang dipanjatkan dalam istighosah adalah do’a-do’a yang pernah diucapkan oleh para nabi ketika mereka berada dalam kondisi yang serba sulit dan terjepit, mustahil bisa menyelesaikannya tanpa pertolongan  Allah. “Sebut saja misalnya do’a yang berbunyi ”Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali ‘Imran:173) ; “Allah adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”. (QS. Al Anfal : 40), do’a ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim ketika akan dibakar oleh Namrudz,” ungkapnya. “Ada juga bacan do’a yang disampaikan oleh Nabi Ayub as ketika menerima cobaan sakit menahun; do’a Nabi Yunus as ketika berada dalam perut ikan; juga do’a Nabi Muhammad saw ketika menghadapi perang badar,” lanjutnya.

Romdlon Nawawi adalah dosen IAIN Surabaya yang  tinggal di Malang. Di kalangan komunitas AC, dia diposisikan sebagai “kiai” . Jam berapapun dia datang, pasti akan ditunggu. Istighotsah tidak akan dimulai jika pria paruh baya low profile ini belum datang. Kecuali kalau ketua MWC NU Kecamatan Dau Kabupaten Malang ini memang sebelumnya memberi kabar bahwa  dia tidak bisa hadir.  Sampai jam 12 malampun kehadirannya akan ditunggu, seakan tidak ada yang berani menggantikan posisinya.  Apakah ini potret tradisi kultus yang khas dikalangan nahdhiyin?

“Tentu saja ini bukan (kultus). Kita dengan Mas Romdhon itu layakanya teman. Meski beliau ini memang “di-kiai-kan” di sini,  namun kita biasa saling menggojlogi dan bercanda.  Sebenarnya (yang hadir) di sini itu santri dan ustadz semua. Sekedar memimpin istighitsah, banyak yang bisa kok. Bahkan tadi khan ada Mas Fauzan (Fauzan Alfas,  tokoh NU Kota Malang)  juga beberapa kali Mas Robikin dan Mas Andry. Mereka bertiga ini levelnya sudah kayak kiai. Tapi sudah menjadi mafhum bersama, bahwa KMas Romdhon adalah Imam Istighotsh kami” demikian terang Heri, Pengurus AC yang juga Direktur Placids Averroes ini.

Bisa jadi, keberadaan “imam tunggal” itu memang bukan masalah kultus. Mungkin itu adalah sebuah kesepatan sosial yang tidak tertulis yang merupakan cara khas komunitas ini dalam menentukan pemimpin.

Tak ada yang istimewa dari ritual istighosah di Averroes.  Hanya saja, mereka yang datang rata-rata adalah aktivis dan mantan aktivis yang sering mendapat label anak muda NU “liberal”. Ritual ini dilakukan setiap  dua minggu sekali, hari Jum’at malam. Tak banyak yang datang, rata-rata jama’ah yang hadir antara 30 sampai 40-an orang.

Jauh berbeda dengan istighosah politik, jauh pula dari motif kepentingan tertentu, kecuali motif untuk bersua dengan sahabat, bersenda gurau, berbagi gojlokan dan tentunya taqoorrub illalah. L. Riansyah salah satu anggota jamaahmengatakan bahwa istighosah di Averroes adalah rutinan biasa. “Istighosah itu kan hanyalah sarana berkumpul dan mempertemuakan orang-orang yang dalam kondisi biasa sangat sulit untuk bertemu” , ujarnya. Tak salah memang argumen yang dikemukakan Rian, bagaimana mungkin dalam kondisi biasa Mas Romdlon yang seorang Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya dapat bertemu dan bersenda gurau dengan Mas Robikin Emhas yang seorang advokat, berkantor di Jakarta. Dan masih banyak lagi “aktivis istighosah” yang dalam kondisi biasa jarang atau bahkan sulit untuk bertemu atau sekedar bersapa.