Judul: Ilusi Demokrasi
Penulis: Saiful Arif
Penerbit: PUSPeK Averroes dan Desantara
Tahun: 2003
Tebal: 188
ISBN: 9790646189

Semaraknya kampanye dan derap demokrasi di berbagai belahan dunia, terutama dunia ketiga, membuat kita semakin tidak bisa menyadari bahwa apa yang hadir di tengah-tengah kita sesungguhnya tak lebih sebagai sebuah kepalsuan; sebuah demokrasi yang palsu, sebuah kesejahteraan yang palsu, sebuah kemakmuran ekonomi yang palsu, kebebasan berpendapat dan berpolitik yang palsu.

Sejuta Harapan

ilusi demokrasiDemokrasi datang dengan membawa sejuta harapan akan kemakmuran dan upaya-upaya pembebasan. Demokrasi mengajarkan agar kita menjaga fairness dalam berkompetisi, dengan siapapun. Demokrasi mendoktrin agar setiap warga tunduk pada peraturan dan kesepakatan-kesepakatan. Demokrasi juga telah memberi pendidikan kepada kita agar kita tak perlu melawan pada sistem pemerintahan yang (seakan-akan) demokratis, partai yang (seakan-akan) demokratis, pers yang (seakan-akan) demokratis dan seterusnya. Demokrasi hanya mengajarkan kita untuk melawan pada apa yang ia sebut sebagai otoritarianisme, feodalisme dan fasisme.

Ajaran-ajaran demokrasi yang melekatkan label atau simbol-simbol kemanusiaan yang hakiki di atas, membungkam suara-suara yang aneh terhadap demokrasi. Demokrasi memang mengajarkan agar perbedaan pendapat jangan dilarang, tapi demokrasi sama sekali tak mengizinkan perbedaan yang menyerang dirinya.

Atas nama demokrasi, dan dalam sistem yang paling demokratis sekalipun, seorang lawan kalau perlu diberi lambang diktator agar ia jatuh dari kekuasaannya. Di saat yang sama ia menyebarkan ‘fitnah’ bahwa diktator adalah sistem yang paling buruk di dunia, dan perlu digantikan dengan demokrasi, sistem yang paling manusiawi. Dan yang paling demokratis adalah kelompoknya, bukan kelompok mereka!

Ini terjadi berulang-ulang dan berganti-gantian antara masing-masing kelompok yang berseteru. Masing-masing saling menjastifikasi dirinya sendiri sebagai yang paling demokratis, dan berusaha memasang iklan di hadapan rakyatnya bahwa dialah yang paling layak dipilih. Akhirnya otoriterisme menjadi sebuah label buruk bagi semua kelompok yang berkuasa, yang diberikan oleh lawan yang telah kalah bertanding.

Barangkali kita bisa menghargai alasan Muhammad Iqbal (1877-1938) dalam mencaci demokrasi barat. Baginya, demokrasi barat telah dipakai sebagai senjata bagi imperialisme dan kapitalisme Eropa. Dengan tegas ia mengatakan, “Demokrasi di Barat adalah organ kuno yang mendendangkan lagu imperialisme,” tulisnya seperti dikutip Riffat Hassan dalam The Development of (Iqbal’s) Political Philosophy. (1971). Tetapi toh ia tetap mencari-cari demokrasi dalam Islam. Seberapa tidak otoriter-kah demokrasi dalam Islam? Dalam interpretasi seperti apa demokrasi yang dijanjikan oleh Islam? Siapa yang menginterpretasikannya? Tampaknya jawabannya adalah seperti pertanyaan kita sebelumnya, bagaimana suatu demokrasi ditafsirkan dan oleh siapa? Demokrasi jelas akan menjadi otoriterisme ‘model lain’, manakalah dia dipraktikkan oleh manusia-manusia tamak zaman ini.

2 COMMENTS