Judul: Ex Machina
Sutradara: Alex Garland
Pemain: Domhnall Gleeson, Alicia Vikander, Sonoya Mizuno, Oscar Isaac
Produksi: DNA Films
Tahun: 2015

Penemuan ilmiah memang selalu menarik. Sebagai salah satu wujud dari kecerdasan manusia, inovasi selalu dilakukan demi keberlangsungan ilmu pengetahuan. Bahkan bantahan atas penemuan yang sedang mapan pun dilakukan. Inilah ‘impian’ Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution. Secara praktik, pengujian atas kategori tertentu, dengan bertanya atau mencobanya di situasi yang berbeda, hingga menemukan bentuk yang fix dan kontekstual, bisa kita tonton secara tersirat di film Ex Machina. Film ini menggambarkan beberapa hal: pertama, bagaimana ilmuan memperlakukan teknologi; kedua, film ini menimbulkan pertanyaan siapa sebenarnya yang robot dan siapa yang ilmuan.

Diceritakan di film ini mengenai Caleb Smith yang memenangkan undian untuk memecahkan kode rumit berbasis internet, Turing Test—tes yang disandarkan pada nama Alan Turing penemu computer. Caleb adalah seorang computer programmer yang bekerja di perusahaan milik Nathan Bateman, pemilik dan penemu Bluebook. Memang, film ini dipenuhi dengan istilah seni dan sain modern, sehingga tampak sangat intelektual dan bergizi yang bisa menangkap istilah dan simbolnya.

Oleh Nathan, Caleb diproyeksikan untuk menjadi unsur manusia dalam Turing Test pada pembuatan humanoid robot yang dirancangnya. Hal ini dilakukan untuk menguji apakah robot manusia itu mempunyai kesadaran selayaknya manusia pada umumnya. Berkali-kali Nathan membuat robot yang semuanya beridentitak seksual perempuan. Pada robot terakhir yang ia buat, Caleb adalah unsur manusia yang dijadikan alat untuk menguji kemampuan Ava, robot tercanggih yang Nathan pikir dapat menjadi robot pertama yang sukses memperoleh kesadaran. Pengujian ini dilakukan di sebuah rumah rahasia yang juga dilengkapi dengan laboratorium dan ruangan kedap suara.

Mengalahkan Manusia
Ava, robot perempuan yang menjadi tahap terakhir dari eksperimen Nathan, adalah robot cantik dan cerdas yang dijadwalkan untuk menjalani Turing Test selama seminggu di bawah wawancara interaktif dengan Caleb. Caleb yang waktu itu masih mempertanyakan proses ini sebenarnya sangsi apakah benar seorang robot mempunyai kesadaran selayaknya manusia. Tak ayal, Caleb kaget, ternyata Ava memiliki apa yang manusia miliki; rasa cinta, kasih sayang, dan perasaan terancam. Nathan memberikan sentuhan selayaknya ia diasuh sebagai anak pada umumnya. Namun jangan lupa, bahwa proyeksi intelektual yang dilakukan Nathan adalah proyek sain, yang harus melewati uji coba walaupun secara serampangan ia harus membunuh robot itu karena gagal uji coba.

Demi penemuan ilmiah yang Nathan usahakan, sudah banyak robot lain sebelum Ava yang mengalami eksterminasi. Bahkan Kyoko, robot pelayan yang ada di rumah rahasia di tengah gunung dan hutan itu adalah robot dengan desain wajah Jepang dan tidak memahami bahasa Inggris, juga didesain untuk dapat melayani hasrat seks Nathan. Teknologi ilmu pengetahuan diperlakukan oleh ilmuan yang sembrono sebagai sesuatu yang tak dekat sekalipun dengan moralitas. Robot manusia tidak diperlakukan sebagai manusia. Jika kita melihat proses kemenjadian, manusia pun sebenarnya tak jauh beda dengan robot yang sama-sama mengalami proses internalisasi dan eksternalisasi lingkungan sekitarnya.

Pada satu tingkat yang lebih tinggi, Ava memperlihatkan bagaimana ia bisa mempengaruhi Caleb, seseorang manusia sungguhan yang dalam sudut pandang ilmuan seperti Nathan lebih dapat mengendalikan emosi untuk tidak terpengaruh rasa sayang Ava dan ajakannya untuk kencan. Dalam skenario ini, tak ada perbedaan mencolok antara siapa yang manusia dan siapa yang humanoid robot. Kekaburan batasan ini merembet pada pelampauan kecerdasan robot terhadap manusia. Jika ilmuan menganggap robot hanyalah objek dari proses saintifik, lalu kenapa objek tersebut dapat membalik sepenuhnya posisi subjek yang menciptakannya.

Kasus seperti ini banyak terjadi di bidang lain semisal keberpisahan antara pekerja dengan komoditas yang diciptakannya. Ilmuan teralienasi dari inovasi yang ditemukannya hanya karena ia menganggap proses dan hasil penemuan itu berjarak sepenuhnya. Dari gambaran yang ditampilkan oleh film ini, seakan-akan menyiratkan kode etika memperlakukan objek yang seharusnya diubah total, dengan cara mengubah pandangan penemu atau pelaku inovasi sains pada objek yang dikerjakannya.