“Pique mengoper bola pada Busquets, Busquets mengarahkan bola kepada Xavi, Xavi memberikan bola kepada Iniesta, Iniesta menggiring bola dengan cepat, operan yang cantik kepada Messi, Messi berlari melewati satu, dua, dan goooolllllll”.

Sepakbola  memang begitu masyhur di seluruh belahan dunia. Sepak bola adalah olahraga sederhana yang dapat dimainkan di situasi dan kondisi apapun. Hanya bermodalkan bola saja, sepak bola sudah bisa dimainkan. Jika tidak ada gawang bisa diganti dengan sandal dan kayu, jika tidak ada sepatu bisa nyeker atau pakai sandal. Tidak seperti olahraga lain seperti basket, bulu tangkis ataupun golf yang memerlukan kelengkapan peralatan yang banyak.

Dewasa ini, keberadaan sepak bola sudah menjadi konsumsi wajib bagi mayoritas penduduk di muka bumi. Jika dahulu sepak bola dimainkan sebagai olahraga untuk menjaga kondisi tubuh dan mempersatukan berbagai lapisan masyarakat, sepak bola hari ini sudah terindustrialisasi untuk kebutuhan dan penguasaan pasar. Para pemilik modal sudah melek dengan olahraga bernama sepak bola untuk berinvestasi dan mendatangkan triliyunan keuntungan.

Uang, Kekuasaan dan Hegemoni di Sepakbola menjadi daya magnet yang besar dan dengan cepat memberikan keuntungan yang cepat. Tengok saja bagaimana para taipan minyak asal Negara-negara timur tengah yang berbondong-bondong membeli klub sepak bola. Manchester City misalnya, klub yang selama ini dipandang sebelah mata tiba-tiba menjelma menjadi klub dengan skuad impian para pemain bintang dan berbagai prestasi setelah kedatangan Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan. Keuntungannya? Sebuah klub sepakbola proffesional mempunyai pendapatan yang berasal dari pemasukan tiket, sponsor/ iklan, royalti dari apparel, unit bisnis, keuntungan tranfer pemain, dan masih banyak hal lain yang bisa dijadikan pendapatan termasuk prestasi.

plesetan bola

Ditunjang dengan keberadaan media sebagai alat promosi dan perluasan informasi, sepak bola bak agama baru yang wajib dibela dan dipertahankan eksistensinya. Tidak percaya?, tengoklah hashtag yang menjadi tren di sosial media Twitter hari ini. Pasti anda akan menemukan salah satu hashtag #RajaCiaranTundaIndonesia. Apa hubungannya dengan sepak bola? Fenomena tersebut terjadi sebagai bentuk ketidakpuasan para penikmat sepak bola terhadap salah satu stasiun televise yang lebih berat terhadap sinetron daripada siaran langsung sepak bola. Masih tidak percaya? Jika anda warga Malang atau kebetulan berdomisili di Malang, anda akan mendapati fakta bahwa semua televisi akan bergambar pertandingan Arema ketika sedang bertanding.

Semua pecinta sepak bola pasti pernah mendengar jargon “Football without supporter is notihing”. Jargon ini meletakkan dimana dan bagaimana posisi pendukung sepak bola. Fanatisme ini lahir dibatas kesadaran dan ketidaksadaran manusia, “kesadaran yang tak disadari”. Fanatisme supporter sepak bola sudah menyamai bahkan melebihi fanatisme terhadap agama. Karenanya jangan sampai kaget jika melihat berita ejek-ejekan ataupun  tawuran antar supporter.

Machiavelli dengan jelas mengatakan bahwa kekerasan menjadi sah untuk mempertahankan ancaman dan dapat dipraktikkan oleh para penguasa. Sepertinya, sepak bola sedang menuju ke arah teori ini. Ketika sebuah tim kesayangan mereka mendapat perlakuan tidak adil, spontan saja para supporter ini akan mengamuk dan meluapkan emosinya sepanjang dan sesudah pertandingan.

Selanjutnya, Fanatisme akan melahirkan hegemoni baru. Sebagaimana yang dikatakan Gramsci bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat. Dari dominasi tersebut kemudian berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Sepak bola bukan lagi sekedar permainan, sepak bola adalah simbol kekuasaan dan hegemoni atas umat manusia.

Andai sudah seperti ini, pertanyaan selanjutnya adalah “Jika ada fanpage atau akun media sosial atas nama agama. Kira-kira besar mana pengikut atau likers-nya dibandingkan dengan fanpage atau akun resmi klub sepak bola?”.

 

3 COMMENTS