gus-sopanDialog adalah salah satu cara yang arif dalam menyikapi perbedaan pemahaman keagamaan. Di sebuah dusun terpencil di Kabupaten Malang, tepatnya di dusun Sembon Desa Durenan Kecamatan Ngajum, tradisi seperti itu dikembangkan di pelataran rumah seorang kiai muda, Gus Sopan. Gus yang mengaku tidak pernah nyantri apalagi sekolah ini selalu meluangkan waktunya setiap malam untuk berbincang dengan siapapun mulai pelajar, warga kampung, mahasiswa, ustadz, kiai bahkan kalangan birokrat.

Tema yang diperbincangkan beragam mulai masalah keseharian, agama, makna kehidupan, juga soal-soal politik. Berikut petikan wawancara dengan pendiri Yayasan Pendidikan Soeryo Ngalam yang sering mengeluarkan lontaran kontroversial ala Abu Nawas ini terkait kasus penyesatan.

Pandangan Gus tentang aliran-aliran yang disesatkan itu bagaimana?
Buat saya Mbah Ali (Kiai Ali Thoha) itu bener (benar) tapi ndak pener (tidak pada tempatnya). Tapi ya biarkan saja. Juga Roy (Yusman Roy) ndak pener bagi saya. Dia pernah di sini berdiskusi, katanya Gus Sopan itu beberapa penjuru boleh. Boleh, saya mendukung, khan biar tahu maknanya shalat. Tapi bagi saya bisa saja sehabis shalat diterangkan, gunanya TPA untuk apa? Mengapa koq dibuat susah, Lha wong Islam itu tidak mempersulit. Satu bahasa lho tidak masalah. Khan kalau kita berniat mau mengikuti Rasulullah, yang dibaca juga bahasa sana (Arab). Kalau tidak mengerti, yo ngajio (ya belajarlah). Khan ada sekolahan. Kalau yang tua-tua Gus? Entheng Islam itu. Tidak bisa Allahu Akbar, melok-melok wae. Kancane sedakep, sedakep. Kancane rukuk, rukuk. Kancane sujud, sujud.  Begitu lho bisa, nanti ba’da shalat bisa dijelaskan, shalat itu begini, bacaan shalat itu begini, maknanya begini. Saya sempat mempertanyakan juga ke dia (Gus Roy) mengapa lafadz Allah kok dibingklai tapal kuda, kan baiknya memakai bingkai hati. Begitu waktu itu kita bertukar pendapat. (yang datang) Di sini memang banyak  versi.

Biasanya malam minggu tempatnya diskusi. Membahas apapun. Beda pendapat boleh, argumentasi ok, tapi tidak saling menyalahkan. Tidak sepakat dengan saya karena dasarnya apa, sepakat dengan saya dasarnya apa

Jadi berbeda pendapat asal ada dasarnya boleh ya Gus?
Boleh saja. Sekarang saya bilang gini, Allah dan Al Qur’an itu tidak wajib diikuti. Bagaimana menurut anda?

Ya silahkan saja, kalau itu pemahaman Gus?
Wah sampean ini bagaimana. Kalau begitu kayak Kiai Mahmud (KH Mahmud Zubaidi, Ketua MUI Kabupaten Malang) yang waktu itu bertanya, Kiai, Anda ini gurunya siapa tho? Saya jawab : Syaikh Siti Jenar. Beliau malah bilang, bagus…bagus… Padahal khan saya memancing, kalau saya ini sesat apa tidak. Sepakat atau tidak, terus dasar argumentasinya apa. Kalau saya ngomong kayak gitu dibilang “bagus-bagus”. Tapi kalau ada orang lain begitu malah disesatkan.

Anda ini lulusan mahasiswa, lho. Gimana yang tadi, Anda sepakat apa tidak (dengan pendapat saya)?

Ya tidak setuju. Sebagai konsekuensi syahadat, saya harus mengikuti Allah dan firman-firmanNya.

Apa syahadat itu harus mengikuti. Syahadat tidak harus ngikut, lho. Umpanya saya itu menyaksikan peminum alkohol, tapi saya tidak harus ikut minum alkohol. Nah, Kalau Allah tidak makan, tidak minum apa harus diikuti? Terus kalau Al Qur’an ngomong tentang syetan, tentang Abu Lahab, mau ikut syetan sama Abu Lahab? He..he..he….

Al Quran itu bacaan, Al Furqon, pembeda. Jadi kita itu mentaati Allah dengan mengikuti Rasul, bukan mengikuti Allah. Inilah pentingnya meniru ilmunya Sunan Kalijaga, susunan kalimat harus dijaga. Makanya sunan kalijogo iku mudanya brandal rupadaya. Brandal iku rampok, rupo iku suara, daya itu kekuatan. Jadi, Ngrampok omongane ulama, omongane kiai, pemimpin sukses, juga pemimpin sing dilengserne. Bagaimana koq bisa begitu, diambil pelajaran.

Kalau masalah penyesatan tadi Gus?
Islam itu pecah 73 yang benar satu. Satu yang benar yang mengikuti Rasul itu bagi saya adalah yang senang dengan ke-72 golongan lain, bisa membenarkan, tidak benarnya sendiri bisa mengayomi kabeh.

Termasuk juga membenarkan ajaran Mbah Ali?
Ya. tapi saya tidak mengikuti. Rasul tidak bisa baca buta huruf khan sesat, itu disebut dalam surat Al Jumuah. Memang kita buta huruf, tapi jika bisa memahami dan mengenal asma Allah akan diberi petunjuk. Ini lho kebijaksanaan Allah. Lha wong yang membuat pandai itu juga Allah. Semua itu sesat, nabi rasul itu sesat, mengapa kita takut sesat. Kalau begitu apa berhak kita itu menyesatkan. Di surat Jum’ah itu semua dijelaskan. MUI saya bilangin gitu manthuk-manthuk. Peh eruh disik wae kok kemlelet (mentang-mentah tau ilmu duluan saja bertingkah). Nabi Yunus pernah sesat. Ya Allah memang saya yang paling sesat, ada kan (kisah) itu? Akhirnya Allah menolongnya. Kalau kita mengaku sesat akan ditolong oleh Allah. Kalau kamu ngaku sombong tak encepne tenan.

Seperti itu, kita harus jadi penengah, jadi biar yang sesat itu bisa aman. Terkadang memang yang terjadi, yang disesatkan malah sombongnya yang dikedepankan, sementara yang menyesatkan tidak paham blas. Biasanya begitu. Orang yang sudah mencapai tahap haqiqoh itu disuruh turun tidak mau, bertemu dengan syariat tidak mau. Biasanya yang terjadi seperti itu. Kiai syari’at juga demikian. Andai saja, coba,  ilmu sing dianggap sesat itu ditelusuri khan lain nanti ceritanya. Ini (ahli hakekat) tidak mau turun, yang ini (ahli syari’at) tidak mau naik. Makanya perlu ada yang menjembatani, ya yang kayak kamu ini yang menjembatani mestinya.

Apakah njenengan tahu bagaimana ajaran Mbah Ali?
Saya belum pernah ketemu dengan Mbah Ali, kalau anaknya, Gus siapa itu namanya,  pernah ngobrol. Saya juga dapat buku ajarannya, saya dapat dari Gondanglegi. Tapi saya simpan, karena bisa ramai nanti. Di situ dianjurkan ibadah puasa seumur hidup, ya biarkan saja lha wong ibadahnya malaikat juga puasa seumur hidup. Ada yang bilang di sana meninggalkan shalat. Tapi bagiku semua makhluk di dunia ini shalat semua.  Sholat yang disebut dalam surat Al Baqoroh, shalat itu ada 8 versi. Sholat wustho, shalat daim, shalat makrifat, shalat ba’da makrifat dan lain-lain. Di surat thoha shalat itu untuk mengingat, di Al Alaq  itu untuk nambah ketaqwaan dan nambah pituduh (petunjuk). Lho koq beda-beda. Nah apakah sebenarnya shalat itu?!

Syariat dan hakekat itu tidak bisa dipisahkan. Syariat thok itu seperti orang yang memegang petunjuk HP tapi tidak punya HP sehingga tidak bisa ketemu dengan Pengeran. ngalor ngidul, nggowo petunjuk wae. gak kenal Pengeran (Tuhan) blas. Tapi sing nyekel HP, ora nggowo petunjuk, iso wae nyekel, iso dihubungi teko Suroboyo, iso omong-omongan, tapi nek salah pencet yo bubrah, rusak. Dalam kacamata tasawuf itu ada 25, syari’ate syari’at, syariate thariqot, syariat hakekat, syariate makrifat, syariate sirri dan seterusnya sampai sirrinya-sirri.

Kalau ada kiai yang menyesatkan kiai yang lain bagaimana Gus?
Kita kan mau mengikuti nabi, apakah nabi sering menyalahkah saudara yang lain? Kiai yang menyesatkan satu dengan yang lain tidak wajib diikuti tetapi cukup disaksikan saja seperti masalah alkohol tadi.

Kalau begitu jika MUI sering menyesatkan orang dibubarkan saja Gus?
Yang penting kita tidak menyalahkan orang lain. Muhammad itu sabar koq. Dan lagi orang yang ditipu daya akan ditolong Allah, baca itu dalam surat Al Anfaal.

Yang menyesatkan terus diapakan oleh Allah, apakah akan diadzab?
Tidak itu, malah disepuro (dimaafkan) sama Allah, kadang juga dingatkan (oleh Allah). Inilah luar biasanya Allah.

8 COMMENTS

  1. Kalimat “Ya tidak setuju, sebagai konsekuensi syahadat, saya harus mengikuti Allah dan firman-firman Nya.” ini statemen pewawancara lho, bukan statemen gus sopan. Tlng dicek biar nyambung

  2. Yang menyesatkan terus diapakan oleh Allah, apakah akan diadzab?
    Tidak itu, malah disepuro (dimaafkan) sama Allah, kadang juga dingatkan (oleh Allah). Inilah luar biasanya Allah. …………… Pemahaman yang luar biasa …

  3. orang yang biasa ” manthuk manthuk ” , koyo koyo paham , biasae bingung . . . dan ndak ngerti . . . koyo koyo sepakat

    lamun Gus e sing bicara sepakat jika orang lain yang komentar di anggap sesat
    apa gak begitu biasae Pak Gus . ..