Judul: Governance Intelligence & Quotient, Sebuah Alat Ukur Kinerja Individu Kepala Daerah dalam Pengambilan Kebijakan Publik dan Perencanaan Pembangunan
Penulis: Fadillah Putra
Penerbit: Universitas Brawijaya Press
Tahun: 2012
Tebal: 165
ISBN: 9786022032465

Buku ini merupakan hasil karya seorang kandidat doktor di University of Melbourne. Judulnya Governance Intelligence & Quotient. Buku ini ditujukan untuk kalangan pegiat kajian kebijakan dan perencanaan pembangunan. Buku setebal 165 halaman ini menjadi petunjuk yang seharusnya dilaksanakan oleh seorang pemimpin dari level kabupaten/kota maupun provinsi atau bahkan nasional (kepala negara). Buku ini cukup kaya data empiris dan diharapkan bisa mengantarkan bagaimana teknis penyusunan perencanaan pembangunan yang bisa menghasilkan sebuah kebijakan tepat sasaran.

Konsep dan Praktik

Pada dasarnya antara konseps dan praktik tidaklah mudah menyatukan menjadi bingkai yang utuh. Sebuah kebijakan dan keputusan yang baik seharusnya diambil secara cepat dengan konsep dan riset yang matang.

Apakah yang dimaksud dengan governance intelligence? Bagaimana mencapainya? Kendati buku ini sendiri tidak bermaksud untuk memberikan uraian yang sangat lengkap dan detil mengenai konsep tersebut karena buku ini hanya merupakan suatu buku panduan awal untuk mengenal secara ringkas dan sederhana konsep tersebut.

Meskipun demikian, buku ini bisa menjadi buku pengantar yang baik, dan setidaknya membantu para pembaca untuk menangkap secara tepat poin-poin utama yang hendak dituju oleh konsep governance intelligence. Buku ini akan memotivasi imajinasi kreatif para pembaca mengenai apa dan bagaimana mengelola proses pemerintahan dan pembangunan secara cerdas.

Governance Intellegence & QuotientImajinasi kreatif adalah basis dari kecerdasan dan karena itulah kecerdasan seringkali tak bisa diajarkan. Kecerdasan itu hanya bisa ditantang kemunculan dan pertumbuhannya jika imajinasi kreatif dirangsang untuk aktif dan dinamis.

Governance Intelligence

Governance Intelligence ialah dalam cara kekuasaan digunakan untuk mengelola sumber daya bagi proses pembangunan. Konsep ini muncul sebagai imbangan dari kesadaran akan berubahnya fungsi dan peran yang dijalankan oleh pemerintah di tengah-tengah era globalisasi dunia.

Jika di masa lalu, pemerintah identik dengan birokrasi yang tak fleksibel, tertutup, sibuk dengan dirinya sendiri, merencanakan segala kebijakan publik dan seterusnya, maka ketika kehidupan ekonomi politik telah begitu dinamis dan kompetitif, wujud pemerintahan yang demikian haruslah ditinggalkan jauh-jauh jika tak ingin kalah bersaing dengan pemerintah-pemerintah yang lain dalam memajukan kemakmuran masyarakatnya.

Proses governance gagal ketika masyarakat secara umum tidak menjadi lebih sejahtera, birokrasi tidak menjadi lebih demokratis dan berkeadilan. Ditambah lagi bila dunia usaha semakin menurun produktivitas dan daya saing ekonominya. Proses governance juga dianggap gagal saat  kota-kota dan desa-desa menjadi tempat-tempat yang semakin tidak sehat, tidak mencerdaskan, tidak aman, tidak nyaman dan semakin kumuh dan miskin. Kegagalan di depan mata bila saja kuantitas dan kualitas lingkungan dan kelestarian sumber daya alam semakin buruk.

Cara mengembangkan Governance Intelligence menurut buku ini adalah dengan menerapkan prinsip mastermind alliance di segala tahapan dan di segala bidang, mengembangkan kecerdasan di bidang perencanaan, mengembangkan kecerdasan di bidang pelaksanaan dan mengembangkan kecerdasan di bidang monitoring dan evaluasi (AP/SA).