Judul                      : Queen of The Desert
Director                 : Werner Herzog
Pemeran               : Nicole Kidman, James Franco, Damian Lewis, Robert Pattison, David Calder, Jenny Agutter
Produksi                : Benaroya Pictures
Rilis                         : 2015
Durasi                     : 125 menit

Film ini diawali oleh scene menarik berupa rapat tertutup bangsawan Inggris dan perwakilan beberapa negara sekutu dengan kesamaan kepentingannya di Timur Tengah pada saat perang dunia pertama berlangsung. Bahkan, Winston Churchill yang diperankan oleh Chirstopher Fulford juga muncul di rapat itu sebagai penentu siapa yang akan mengatur siapa. Bukan hanya pengambil kebijakan yang muncul dalam rapat itu, tapi juga para ilmuan sosial seperti T.E. Lawrence yang dapat memberikan saran berdasarkan kondisi sosial politik kawasan.

Masalah pelik yang muncul di antara mereka adalah bagaimana caranya menaklukkan suku-suku di Arab yang bersengketa tiada akhir, dan bagaimana jalan sederhana untuk menundukkan mereka di bawah kuasa Inggris. Hasil perbincangan panjang itu memutuskan untuk memilih Gertrude Bell sebagai ujung tombak misi mereka untuk mengkooptasi Timur Tengah secara keseluruhan. Selain lihai dalam diplomasi dan menelisik kawasan padang pasir yang luas itu, Bell juga memiliki pengetahuan luas mengenai sejarah, karakter, dan pola hidup suku-suku Arab.

Gertrude Margaret Lowthian Bell, begitulah nama lengkapnya, adalah seorang sarjana dari Oxford, penjelajah, arkeolog, dan anak seorang bangsawan Inggris yang overprotektif pada kehidupannya. Bell dikenal sebagai perempuan muda dengan kemauan yang keras untuk mengetahui semua sisi kehidupan orang Arab. Apa yang melatarbelakangi keinginan ini? Adalah kesepian setelah ditinggal mati kekasih yang tak direstui orang tuanya. Namun, ketertarian Bell pada indah dan cantiknya The Orient (Sang Timur) juga muncul sebelum itu, terutama pada sastra timur yang menurutnya mempesona. Cara pandang macam ini umum terjadi di benak para orientalis atas keunikan Timur.

Film ini penuh dengan euforia keberhasilan Bell dalam “menemukan Arab kembali” dan kisah romantis yang berjejalan. Dengan cara mengalihkan pembacaan pada persoalan sosial dan politik di sekitar keberhasilan Bell itu, kita akan menemukan catatan menarik yang bersifat intrinsik dari film ini, yaitu usaha Inggris di areal koloninya, kuasa pengetahuan yang bias Timur, dan  peta konflik Timur Tengah saat ini.

Pelanggengan Kekuasaan Inggris

Secara jernih dan penuh lintasan sejarah yang silang sengkarut, film ini menyajikan dialog-dialog yang berkaitan langsung dengan PD I, termasuk kebijakan Inggris, pemetaan kekuatan sekutu, pengaruhnya pada perdagangan internasional, dan pemetaan kawasan dan perbatasan berdasarkan kesukuan di Arab. Berhubungan dengan kondisi lokal di Arab waktu itu, pemikiran Bell yang brilliant melihat masa depan Arab sangat menjanjikan. Menurutnya, bukan tidak mungkin perselisihan suku yang berlangsung berabad-abad lamanya itu dapat diredam ke dalam satu pandangan yang sama tentang konsep negara—bahasa lain dari pelanggengan kekuasaan Inggris di sana.

Dalam film ini, fakta bahwa Bell seorang mata-mata yang menyamar sebagai arkeolog dan penjelajah tidak ditemukan. Bahkan dalam salah satu sesi dialog dengan pejabat kolonial Inggris yang membujuknya menjadi mata-mata dan tuduhan pejabat di Hayr, Bell menolak dengan tegas bujukan dan tuduhan itu, bahwa ia menjelajah atas inisiatifnya sendiri. Namun di beberapa sumber lain, seperti di BBC (6/2/2016), menyatakan bahwa ia adalah seorang mata-mata Inggris yang membawa misi penelusuran seluruh kekuatan suku-suku di Arab. Atas keberhasilannya itu, ia diberi jabatan penting untuk mengatur kebijakan Inggris di Timur Tengah. Berdirinya Iraq dan Yordania, termasuk juga rezim Saud di Jazirah, merupakan jasa besarnya hingga ia dijuluki “Al-Khatun”, seorang perempuan terhormat yang menciptakan raja-raja.

Dalam pandangan Bell, berakhirnya kekuasaan Ottoman dan selesainya PD I adalah penanda awal masa depan Arab. Mau diarahkan ke mana Arab setelah itu? Atau yang lebih penting lagi, di mana Inggris akan memposisikan diri pada saat Arab dibentuk kembali? Pengetahuan Bell terhadap kesukuan di daerah gurun pasir ini menjadikan dirinya sebagai senjata utama Inggris dalam pemosisian mereka di tengah proses terbentuknya Arab waktu itu. Bell diuntungkan sekali dengan kemampuannya berbahasa Arab, Persia, dan beberapa bahasa lokal lainnya. Kemampuan berkomunikasi dengan baik ini merupakan langkah pertama Bell untuk mempengaruhi hampir semua suku di Arab.

Sepulang dari perjalanan jauhnya menelusuri kawasan di gurun pasir Arab, Bell diangkat sebagai sekretaris kedutaan Inggris. Inilah awal mula ia menjadi policymaker dan penentu arah keputusan Kerajaan Inggris di Timur Tengah. Kelahiran Yordania dan Iraq adalah buah karya Bell, terlihat dari bagaimana ia “mencipatakan” raja berupa Emir Faishal dan raja-raja lainnya seperti Ibnu Saud di Saudi Arabia. Apakah ini asal muasal dari mesranya hubungan Arab Saudi dan beberapa negara lainnya dengan Inggris hingga saat ini? Penulis kira pembaca bisa menilai sendiri.

1 COMMENT