Siapa yang tidak kenal senjata jarak pendek yang identik dengan bangsa Nusantara ini. Selain merupakan senjata perang kuno benda ini juga dianggap memiliki daya magis dan juga sebagai benda kehormatan. Orang yang awam terhadap keris menilai keris identik dengan senjata yang berlekuk-lekuk. Padahal bentuk keris tidak selalu identik dengan benda yang berkiluk bahkan ada yang tak ber-luk alias lurus. Sebuah keris terdiri dari beberapapa bagian antara lain gagang (pegangan), wilah (mata keris), warangka (sarung keris).

Gagang keris ini bermacam-macam motifnya ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari, pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan emas dan batu mulia.

Warangka keris umunya terbuat dari kayu jati, cendana, timoho, dan kemuning. Namun juga tidak jarang kita bisa menemukan warangka keris yang terbuat dari bahan logam atau kuningan. Seiring perjalanan waktu dan perkembangan budaya terjadi penambahan fungsi warangka sebagai pencerminan status sosial bagi sang pemilik keris.
Wilah atau wilahan merupakan bagian utama dari keris. Wilahan terdiri dari beberapa bagian yaitu pesi, ganja dan yoni.

Pada pangkal wilahan terdapat pesi yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke gagang kersi. Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil.

Ganja merupakan bagian bawah dari sebilah keris, terlihat seperti alas atau dasar dari bilah keris itu. Pada tengah ganja ada lubang untuk memasukkan bagian pesi, beberapa pengamat budaya menilai bahwa hal ini melambangkan kesatuan lingga dan yoni. Bagian ganja melambangkan yoni, sedangkan bilah melambangkan lingganya. Persatuan antara lingga dan yoni dalam budaya kita merupakan lambang kesuburan, kesinambungan, dan keabadian.

Luk adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Cara sederhana menghitung luk pada bilah, dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal (ganjil) dan tidak pernah genap. Luk terkecil adalah luk tiga dan terbanyak adalah luk tiga belas. Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija, atau keris tidak lazim.

3 COMMENTS