Berbicara tentang sosok laki-laki yang romantis memang tak semudah menggunjing keberadaan maju-mundur-cantik ala Setya Novanto. Sebenarnya, banyak hal yang menjadi kriteria untuk mengidentifikasi tingkat keromantisan seseorang. Salah satunya adalah lewat tulisan. Sejatinya, semua orang pasti memiliki bakat atau naluri romantis lewat tulisan. Hanya saja, menjadi penulis bukan perkara insting saja, tapi juga kebiasaan dan frekuensi.

Bagi kebanyakan orang (terutama laki-laki), menulis puisi atau sajak biasanya based on need. Menulis puisi didasarkan pada misi apa yang sedang mereka rencanakan. Situasional, bahasa kerennya. Jika sedang PDKT, tentu puisi yang dituliskan tentang pujaan seperti. “Ohh, Romlah. Kaulah matahari di setiap malamku.” Bagaimana bisa ada matahari ketika malam? Itulah, jatuh cinta terkadang mematikan akal pecintanya.

Menjadi romantis lewat puisi merupakan salah satu metode ampuh untuk menggaet wanita yang secara lahiriah memiliki keinginan untuk dipuja dan ditinggikan. Akhirnya, sebagai sesama lelaki, saya mengutip pesan Ahmaddin Pakai Kasrotin. “Jika kamu tidak ganteng, tidak pintar, dan sampai hari ini masih sendiri. Ada dua cara yang dapat membantumu. Pertama, jadikan Ninja atau Lamborghini sebagai penolongmu. Kedua, sering-seringlah menulis puisi sebagai bekal mendapatkan janda suatu hari nanti.”

Di tulisan ini, kita akan membahas topik penting mengenai fase kepenyairan seseorang. Mencoba untuk mengelupas lebih dalam di posisi seperti apa anda berdasarkan sajak yang anda tuliskan. Baik, mari bersama-sama kita membagi fase kepenyairan seseorang.

Masa Pemula : Berpuisi Tentang Kumbang dan Bunga

Masa pemula merupakan awal seseorang mulai menuliskan sebuah puisi. Masa ini biasanya terjadi pada sekitaran anak yang masih duduk di kelas Sekolah Dasar. Menuliskan puisi ini lebih didasarkan pada tugas yang diberikan oleh guru atau PR Sekolah.

Tema yang diangkat biasanya tentang keindahan alam atau lingkungan sekitar. Jadi, jika ada anak Sekolah Dasar yang sudah bisa membuat puisi tentang selain kumbang dan bunga. Ada kemungkinan puisi tersebut adalah karya ayahnya yang dahulu semasa kecil kurang bahagia. Atau juga puisi kakaknya yang seharusnya diberikan kepada gadis yang dicintainya.

Masa Liar : Bersajak Tentang Cinta dan “Beberapa Daerah Lainnya”

Masa liar tak ubahnya masa dimana seseorang sedang mulai mengenal lawan jenis. Masa yang ditandai dengan munculnya bulu di beberapa anggota tubuh. Mulai dari bulu hidung sampai bulu jempol kaki. Masa ini biasanya menjadi masa kepenyairan yang terjadi paling lama nan awet dalam diri seseorang.

Masa liar banyak dipengaruhi oleh kondisi hati, perasaan, hingga nafsu yang terelakkan. Dari beberapa penilitian, ternyata fase ini tak hanya terjadi pada kaum remaja. Tapi, juga pada mereka yang sedang menikmati indahnya puber kedua.

Masa Mokong (Mbeling) : Protes Pada Tuhan

Masa mokong terjadi sebagai akibat akan ketidakpuasan terhadap sesuatu. Mereka yang biasanya menuliskan puisi seperti ini kebanyakan kehilangan pijakan dan pedoman. Jika bukan motif tersebut, anggap saja mereka sedang iseng dan tidak punya gawe.

Menjadi umum di masyarakat jika puisi semacam ini seringkali dijadikan rujukan akan posisi Tuhan. Padahal, sajak atau puisi yang berisi protes dan gugatan terhadap Tuhan bukanlah puncak dari kedewasaan seorang penulis sajak. Masa ini merupakan masa untuk meloncat menuju fase selanjutnya. Banyak dari mereka yang mampu melewati dengan baik, banyak pula yang terjebak hingga tak bisa move on dari gugatan terhadap Tuhan.

Masa Matang : Pembelaan, Kebangsaan dan Kepedulian Sosial

Masa selanjutnya adalah masa matang. Masa dimana seseorang mulai menulis sajak berisi tentang kehidupan sosial dan komentar untuk bangsa dan Negara. Dalam masa ini, seseorang juga mulai rutin melihat Metro TV atau TV One guna menambah inspirasi untuk menulis. Namun, ada juga yang hanya melihat berita dan berkomentar seadanya. Seperti ibu-ibu yang sedang nonton sinetron Uttaran.

Sebagai upaya untuk senantiasa up to date terhadap masalah-masalah seputar Negara. Fase ini juga bisa menjadi boomerang jika terkontaminasi informasi yang disampaikan oleh media. Maksudnya? Jika televisi dijadikan sebagai rujukan. Menjadi matang karya seseorang jika yang dituliskan adalah keprihatinan pada nilai-nilai sosial dan keruwetan pemerintahan. Namun, jika fokusnya bergeser. Maka sajak akan kembali ke masa liar. Karena tidak menutup kemungkinan jika kasus macam NM, AA, PR akan lebih fokus dijadikan sumber inspirasi. Dan masa liar untuk menuliskan “beberapa daerah lainnya” akan kembali terbuka.

Masa Paripurna : Sufistik

Untuk masa ini, secara pribadi saya belum bisa memberikan penjelasan. Karena keterbatasan informasi dari Om Bagyo Prasasti Prasetyo. Siapakah beliau? Beliaulah yang memberikan pengetahuan tentang fase kepenyairan. Semoga beliau senantiasa dilimpahi keberkahan, agar secepatnya tulisan ini segera mencapai kesempurnaan. Amin Ya Robbal Alamin.