Iftitah Nafika

Irama instrumen musik Jaran Kepang sayup-sayup terdengar dari Masjid An Nur Kota Batu, Rabu (4/5). Maklum, masjid kebanggaan masyarakat Batu itu berada persis di depan alun-alun Kota Batu yang tengah menggelar pesta kesenian rakyat. Masyarakat pun menyemut memenuhi alun-alun. Sebuah pemandangan yang tidak umum mengingat Jaran Kepang merupakan seni tradisional yang mulai ditinggalkan.

Terang saja, pentas Jaran Kepang itu merupakan bagian dari gebyar peresmian alun-alun Batu yang digelar tujuh hari non stop awal Mei lalu. Gebyar itu mementaskan delapan belas kesenian, baik tradisional maupun kontemporer, dalam sepekan.

Dimulai dengan giring seribu bola dan minum susu seribu botol pada Senin (2/5), acara itu berlanjut dengan ludruk humor, reog show, parade band, jaran kepang, gebyar campur sari, musik alternatif dan wayang kulit. Diikuti dengan selamatan, pawai tumpeng dan jajanan pasar, tari sembromo masal, pesta kembang api, jalan sehat dan lomba foto gedung kesenian. Sangat memuaskan publik asli Batu yang haus akan hiburan meski tinggal di Kota Wisata. Terbukti dari padatnya alun-alun tersebut dalam sepekan hingga arus menuju pusat kota Batu dialihkan.

Sikap pemerintah layak diapresiasi dalam pelibatan setidaknya tujuh pementasan seni tradisional dalam gebyar tersebut di tengah sepinya hiruk-pikuk kesenian Batu. Didik Sumintardjo, sekretaris jenderal Dewan Kesenian Kota Batu, mengaku kesenian Batu memang tengah mati suri. Artinya, eksistensi seni tradisional Batu bersifat individual, misal seni rupa mampu bertahan karena mampu “menghidupi” diri sendiri. Kesimpulan Didik itu menjawab eksistensi seni tradisional bila dibanding dengan yang bersifat group atau kelompok. Seni rupa memungkinkan eksis selama dia mempunyai jaringan kerja.

 

Batu Kaya akan Seni Tari

Padahal, terang Didik, masyarakat Batu sangat memiliki jiwa seni. Terbukti dari adanya kelompok Seni Tari Bantengan, Jaran Kepang (sentherewe dan pegon), Reog Ponorogo, Wayangan, Tayuban dan Seni Pencak. “Kesenian pencak tradisional yang dulu hanya berpusat di Kelurahan Sisir dan Junrejo, sekarang setiap desa bahkan sudah ada perkumpulan pencak,” ungkap Didik saat ditemui Newsletter SimpulDemokrasi, Minggu (8/5) di rumahnya Desa Bumiaji.

Dalam seni kontemporer, masyarakat Batu aktif  bergiat dalam Seni Dansa Modern, Terbang Jidor, Orkes Dangdut, Organ Tunggal dan Banjari. Jiwa seni masyarakat Batu juga melekat dalam bidang seni rupa. Kata Didik, Batu sendiri merupakan gudangnya seni lukis. Banyak pelukis papan atas seperti Kubu Surawan, Badri, dan Slamet Hendricus. Selain itu, seni landscaping (menyetel pertamanan) dan handycraft juga ikut mewarnai seni di Kota Batu.

Bahkan, imbuh Didik, Pemkot Batu seharusnya bangga dengan mengkampanyekan Tari Sembromo ke luar daerah karena merupakan seni asli masyarakat Batu. Soal Tari Sembromo, Pemkot Batu terfokus sebagai sajian pelengkap dalam pentas menyambut tamu penting dari pusat.

Didik mendorong agar masyarakat Batu mengenal lebih dalam Tari Sembromo tersebut. Meski, ada tari-tari lain yang tak kalah orisinil dibanding Tari Sembromo. Yakni Tari Pring Lurik dan Mban Endrek yang merupakan improvisasi atas seni yang telah ada. Artinya, Tari Pring Lurik dan Mban Endrek merupakan hasil pengembangan dan modifikasi para pecinta seni setempat.

Namun, menurut Didik, peran aktif pemerintah untuk mendongkrak popularitas Tari Sembromo masih kurang. Terbukti dari even perlombaan yang hampir tidak pernah menyentuh Tari Sembromo. Praktis, tidak ada perubahan sama sekali. Kondisi itu berbeda dengan Tari Dolalak (tarian khas daerah Purworejo) yang sering dipentaskan sehingga menjadi icon sebuah daerah. “Jadi, sebuah tarian itu sebaiknya difestivalkan biar fashion dan fun-nya dapat. Barangkali itu yang perlu kita kembangkan bersama di Kota Batu ini,” ujar Didik.

 

Dipicu Kemajemukan Pendatang

Salah satu kelompok seni tradisional yang jamak ditemukan di Batu adalah Seni Tari Reog Ponorogo. Salah satunya, kelompok Tari Reog Sapto Tunggul Wulung. Menurut Sunarto, salah seorang penggiat Sapto Tunggul Wulung, kelompoknya hadir dengan memberi nuansa Tari Reog lain yang berbeda dibanding Reog asli Ponorogo. Sapto Tunggul Wulung hadir dengan menambahkan gerakan Tari Remo asal Surabaya pada sela-sela tarian jaranan.

Kondisi itu menguatkan dugaan bahwa seni tradisional masyarakat Batu banyak disumbang oleh para pendatang. Mereka bermigrasi dari luar Batu dan mengasimilasikan seni asal mereka menjadi seni yang jamak di tempat menetap yang baru.

Narto, sapaan Sunarto, tak menampik hal itu. Dia mengaku masih mempunyai ikatan darah sebagai dlondonge Ponorogo (pemuda Ponorogo, red). “Bapak dan ibu saya asli Ponorogo. Tiga tahun yang lalu kami baru berinisiatif membentuk kelompok seni Tari Reog di Dusun (Sumbersari, Desa Sumberejo, red),” terang Narto.

 

Campur Tangan Perlu dengan Batasan Tertentu

Narto mengaku sepanjang tiga tahun perjalanan Sapto Tunggul Wulung banyak tertatih-tatih terkait biaya operasional. Dia bersama rekan-rekannya mencoba membangun jejaring di luar berkaitan dengan sponsorship dan donasi. Namun, mereka tak bisa diandalkan karena tak banyak yang mengulurkan bantuan. Pemkot Batu pun, kata Narto, hanya sekali memberikan perhatian dalam bentuk bantuan uang sebesar Rp 600 ribu pada akhir 2010 lalu. Terkait hal itu, Narto cs menyikapi dengan membentuk Lembaga Koperasi Mikro sebagai penghimpun dana bersama swakelola.

Di bagian lain, Dosen Ilmu Administrasi Publik Universitas Brawijaya Fadillah Putra buka suara soal pemberdayaan masyarakat seni di Kota Batu. Itu terkait dengan perhatian pemerintah yang minim sebagaimana diungkapkan Narto. Menurut Fadil, sapaan akrab Fadillah Putra, semestinya pemerintah daerah mempunyai pos anggaran terkait pembinaan kelompok seni. Itu bisa dalam bentuk pos anggaran hibah APBD atau dalam bentuk pemberdayaan. “Bisa dalam bentuk bantuan cuma-Cuma atau dalam bentuk kegiatan pelatihan komunitas seni,” terang alumnus Magister Public Policy Austin Texas University, AS.

Dihubungi terpisah, Direktur Pusat Studi dan Pengembangan Kebudayaan (Puspek) Averroes Levy Riansyah  menegaskan batasan campur tangan pemerintah. Rian menilai kontribusi pemerintah Pemkot Batu atas masyarakat seni sudah cukup. Namun, sebagai masyarakat seni yang paling penting adalah faktor kreatifitas. Artinya, kelompok seni Batu harus bisa bertahan dalam segala kondisi demi nguri-nguri budaya leluhur. “Kesenian muncul atas prakarsa masyarakat, bukan pemerintah,” ucap Rian.

Di dalam suatu perubahan yang terjadi di Kota Batu ada perubahan sosial. Yang mulanya Agrowisata menjadi industri wisata, hal ini sangat mempengaruhi sistem ekonomi masyarakat. Dan ini sangat berbanding lurus pengaruhnya dengan berkesenian. Mengapa demikian? Orang yang awalnya melakukan perlakuan (menanam, membudidayakan dan memetik hasil kebun) kini berubah menjadi orang yang melakukan jasa dan pelayanan.

Rian mengkritik perhatian Pemkot Batu kepada masyarakat seni yang selama ini diberikan. Menurut Rian, upaya Pemkot Batu memberdayakan masyarakat seni tidak lebih dari sebuah ritual program tahunan alokasi APBD. Kendati ada pembinaan, hal itu lebih kepada orientasi proyek, bukan program. “Parameterkeberhasilan dan tindak lanjutnya tidak pernah jelas. Ingin dekat dengan masyarakat seni hanya untuk diadu keluar,” tutur alumus Fakultas MIPA Universitas Brawijaya 2005 itu.

Rian menyebut pemerintah adalah lembaga pelayanan publik. Maka, pemerintah itu adalah kelompok minoritas, namun mempunyai kewenangan atas tata kelola daerah. “Jadi, kalau pun masyarakat ingin mengapresiasi seni jangan menunggu pemerintah. Tapi berkreasilah seinovatif mungkin atas nama peradaban,” tegas Rian.

Padahal, imbuh Rian, Kota Batu yang telah menegaskan diri sebagai Kota Wisata harus mempunyai tawaran lebih. Artinya, tidak hanya tawaran obyek wisata keluarga dalam bentuk wahana-wahana hiburan. Tidak juga hanya mengandalkan pesona alam dalam bentuk wana wisata atau agrowisata petik buah. Namun, segala potensi wisata yang menjadi daya tarik wisata harus digarap demi sebesar-besarnya hajat hidup masyarakat. “Contohlah Wisata Budaya di Bali. Masyarakat seni di sana bisa diberdayakan dan menjadi simbol wisata. Namun, terpenting jika seperti sudah di Bali, jangan menjadikan masyarakat seni hanya sebagai sapi perahan untuk mendongkrak kunjungan wisatawan,” ujar Rian. (zar)

Iftitah Nafika adalah wartawan Simpul Demokrasi dan sehari-hari beraktivitas di Averroes Community.

* Tulisan ini diambil dari Newsletter Simpul Demokrasi Edisi Juni 2011