Masih ingat hitung-hitungan yang dilakukan Anna berkaitan dengan penggunaan bahan bakar dalam Dunia Anna-nya Jostein Garder? Terus setelah itu, coba juga ingat bagaimana listrik mati tanpa sebab di daerah-daerah yang jauh dari Jakarta. Di Madura, intensitas pemadaman massal tanpa pemberitahuan sangat tinggi, begitu juga di daerah lain yang ternyata lebih parah. Di Kalimantan bahkan, menurut teman dekat saya, bukan hanya padam listrik, namun di beberapa daerah minim listrik dan daerah yang lebih pelosok tak ada listrik. Ketidakmerataan pembangunan adalah kegelapan dalam artian yang sesungguhnya.

Hari ini, 19 Maret 2016, adalah Sabtu terakhir bulan Maret. Itu artinya beberapa negara, termasuk Indonesia, sedang menselebrasikan Earth Hour yang dimotori oleh WWF (World Wide Fund for Nature). Jika kita hendak mengikuti acaranya, mudah sekali yaitu mematikan listrik selama satu jam. Simpel, bukan? Mau mendukungnya dengan cara yang “keren”? Gampang, Facebook menyediakan fitur penggantian foto profil yang secara otomatis foto kita akan tertempeli tulisan “Earth Hour 2016”. Pastikan bahwa kamu membuka Facebook dengan aliran listrik dan internet. Kalau bisa, lakukan itu di Jakarta atau beberapa kota di Jawa.

Jika dalam sehari semalam ada 24 jam dan listrik di rumah atau di kontrakan kita hidup maksimal 12 jam siang malam, dan kita mematikan listrik selama satu jam setiap tahun untuk memperingati Earth Hour, maka dalam setahun kita hanya mengurangi 4320 durasi hidup listrik kontrakan dengan satu jam Earth Hour menjadi 4319 jam listrik hidup. Di satu jam yang berkurang dan gelap itu kita menggantinya dengan ribuan lilin yang sama memerlukan bahan bakar untuk menyalakannya. Lalu apakah ini masih berarti “lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan” demi mencari solusi atas pemanasan global?

Apakah penting ikut menselebrasikan Earth Hour setahun sekali sedangkan listrik kita sering mati tanpa kita matikan sendiri nyaris tiap hari? Apaka mematikan listrik selama satu jam dalam jangka waktu setahun sekali itu signifikan bagi usaha mengatasi pemanasan global? Adagium terkenal berbunyi, “Kalaupun usaha ini mustahil untuk membawa perubahan, yang penting orang-orang tahu aku ada di pihak yang mana.”

Posisi Kita

Yang penting dalam Earth Hour bukanlah usaha mengatasi pemanasan global itu sendiri dengan cara mematikan listrik selama satu jam dalam setahun, tapi memposisikan manusia sebagai elemen penting dalam perubahan ekologis yang terjadi di bumi. Ekofeminisme membenarkan hal ini. Meski secara keras harus ditinjau ulang bagaimana manusia ditempatkan.

Usaha-usaha penyadaran yang dilakukan banyak environmentalis sebenarnya baik untuk keberlanjutan lingkungan, sayangnya banyak yang salah arah karena ternyata masih mempertahankan cara pandang superioritas manusia alam. Mematikan listrik satu jam hanya di Sabtu Terakhir Bulan Maret justru akan gagal menaikkan kesadaran lingkungan bilamana pandangan bahwa manusia adalah subjek pengubah satu-satunya di alam semesta masih bertahan.

Beberapa kritik muncul terhadap Earth Hour ini karena selain salah pengertian dalam pelaksanaannya, juga meleset konsep dasarnya. Orang mematikan listrik selama satu jam tapi menghidupkan beratus hingga beribu lilin untuk menerangi mereka selama lampu mati. Itu sama saja dengan mematikan satu saklar tapi menghidupkan dua lilin yang mengandung parafin, atau setara dengan Car Free Day sehari dalam seminggu tapi naik kendaraan pribadi bermotor selama enam hari sambil buang sampah sembarangan. Dari mana asal mula salah persepsi itu datang? Jawabannya adalah dari pemberhalaan diri manusia dan menganggap alam sebagai objek mati.

Earth Hour dan gerakan berbau kepedulian terhadap lingkungan memang tidak sepenuhnya sempurna, meski secara mendasar perlu diakui sebagai langkah awal untuk mendorong kesadaran individual yang bisa ditularkan secara komunal. Kegagalan mempertimbangkan cara terbaik memang bagian dari terlembaganya kenyamanan. Orang-orang di pedalaman tidak melakukan Earth Hour dan tidak mengenal istilah dari gerakan ini, namun mereka “melakukan Bulan Bumi”, mengalami kepadaman listrik berbulan-bulan sambil lalu menunggu tiang-tiang listrik PLN dipancang di sepanjang jalan desa mereka.

Superioritas manusia terhadap alam, dan lupa bahwa manusia bagian dari alam itu sendiri, memunculkan apa yang disebut oleh Gus Speth dengan selfishness, greed, and apathy. Menurutnya, inilah penyebab utama permasalahan-permasalahan lingkungan, bukan hilangnya biodiversitas, rusaknya ekosistem, atau perubahan iklim. Posisi manusia memang menentukan, tapi bukan dalam artian menonjolkan dan mengukuhkan superioritas itu. Untuk itu, sebenarnya Earth Hour bukan hanya memadamkan listrik satu jam, tapi juga harus mematikan superioritas manusia terhadap alam selamanya.

1 COMMENT

  1. […] ini, kegiatan Earth Hour nyatanya tidak lebih baik daripada Hari Raya Nyepi di Bali atau bahkan masyarakat Kangean yang setiap harinya hidup dengan 12 jam penggunaan listrik. Kegiatan Earth Hour 60+ Kota Malang dimulai pada pukul 20.30 WIB, bertempat di Balai Kota Malang. […]

Comments are closed.