Pemateri: Edi Purwanto
Moderator: Fahrul Ulum
Notulen: Muhammad Luthfil Hakim

Sebagaimana ditegaskan oleh Y.B Mangunwijaya, “Sejarah kebudayaan dan sejarah intelektualitas kita sangat ditandai oleh diskontinuitas oleh suatu sikap yang tidak historis.” Sikap yang ahistoris ini menyebabkan kita sebagai bangsa menjadi kehilangan arah dalam berbagai hal. Karenanya, Diskusi Reboan Averroes sebagai wadah pengembangan intelektual kritis pemuda mengangkat tema sejarah nusantara melalui bedah buku Denys Lombard yang berjudul “NUSA JAWA: SILANG BUDAYA Jilid 2 (Jaringan Asia).

Pada pekan sebelumnya, diskusi membedah buku Nusa Jawa edisi pertama bertema “batas-batas pembaratan” dengan pemateri Mujtabah. Pada pertemuan buku serial kedua, forum menghadirkan Edi Purwanto. Beliau adalah seorang penulis dan peneliti budaya. Cak Edeng, sapaan akrabnya, tercatat pernah melakukan penelitian di Tengger pada tahun 2005, khususnya daerah Ngadas, Kabupaten Malang. Persilangan budaya di Tengger yang masih otentik menjadi bandingan dan refleksi Edi terhadap buku karya Lombard tersebut. Proses inilah yang kemudian membuat diskusi menjadi semakin sulit dilewatkan.

Diskusi berlangsung di bawah siraman cahaya lampu dan di tengah suasana sejuk udara malam hari Kota Malang. Sedikitnya hampir 20 muda-mudi mengikuti diskusi yang membuat proses benturan antar pendapat terjadi begitu menarik. Meski dalam tajuk bedah buku, diskusi kali ini juga diarahkan untuk berkembang berdasarkan berbagai referensi pembanding.

Tiga Bangsa Asia

Pada awal diskusi, Edi memberikan pengantar bahwa Lombard adalah salah satu peneliti yang mencoba untuk mensistematisasi peradaban nusantara dari kisaran abad 5 hingga 19. Proses tersebut ditampilkan melalui tiga serial buku dalam satu judul yang tersusun dengan pengelompokan pembahasan tematik. Selain itu Lombard juga mengurutkan pembahasan dengan deret waktu yang terbalik. Buku 1 berisi interaksi Jawa dan pemerintah kolonial belanda. Mundur ke belakang, pada buku ke 2 Lombard membahas bangsa Jawa dan interaksinya dengan bangsa-bangsa Asia pada masa pra kolonial. Hasilnya, dalam buku diskusi bedah buku ini mengarah pada tiga bangsa besar asia, yakni China, India, dan Arab.

Berlandaskan rujukan naskah sejarah dalam buku Lombard, Edi menjelaskan bahwa Jawa mulai diceritakan sekitar abad ke-5 setelah adanya bangsa Kunlun yang berlayar dan singgah di pulau ini. Selain adanya bangsa Kunlun, diperkirakan juga ada bangsa China dan Arab. Saat itu dan sebelumnya, diketahui bahwa Jawa merupakan tempat persinggahan bagi pelayaran bangsa-bangsa Asia Tenggara. Persinggahan beberapa bangsa tersebut menghasilkan penamaan atas Jawa menjadi berbeda-beda, ada yang menyebut Seipo, ada pula yang menyebutkan Yavadwipa.

Edi kemudian juga menambahkan bahwa Lombard merujuk salah satu relief di Candi Borobudur yang menggambarkan beberapa kapal bangsa asing. Penemuan Jawa oleh beberapa pelayar bangsa-bangsa Asia terus berlangsung dan mengalami arus peningkatan. Hal ini tidak lain dilatarbelakangi oleh lalu lintas perdagangan. Salah satu komoditas utamanya adalah rempah-rempah.

Interaksi antara penduduk Jawa asli dengan para pedagang dari asia menyebabkan kesadaran untuk berdagang bertambah pesat. Perdagangan mengalami puncaknya pada masa Majapahit berkuasa di sebagian besar wilayah nusantara. Rempah-rempah telah digunakan sebagai produk dari tanah nusantara yang dikomersilkan pada bangsa-bangsa yang lainnya.

Sementara itu, pedagang-pedagang dari Bangsa China, Arab, dan India terus berdatangan untuk berdagang maupun sekadar singgah dari pelayaran antar benua. Khusus proses perujukan ini, Edi menyesalkan buku Lombard karena tak menjelaskan sejarah secara kronologi berdasarkan deret waktu.

“Nyamikan” diskusi seperti gorengan, kopi, dan teh hangat mulai tersisa separuh. Menjadi pertanda bahwa suasana materi yang dibawakan oleh Edi terasa ringan walaupun tetap mendalam. Ia kemudian melanjutkan paparan mengenai dampak dari persoalan datangnya Bangsa Asia ke Jawa. Proses interaksi antara Bangsa Asia dan Jawa berdampak pada perubahan ekonomi, politik, agama, dan budaya. Hal itu dikarenakan oleh adanya doktrin budaya dari beberapa bangsa Asia, disamping masyarakat Jawa yang memang dikenal suka berkompromi dalam kebudayaan. Inilah alasan mengenai kecenderungan untuk melakukan asimilasi budaya yang cukup kuat. Lebih lanjut, kenyataan tersebut direfleksikan oleh Edi pada era dewasa ini, dimana terlihat beberapa kebudayaan dan kepercayaan saling berbaur di Jawa dan membentuk realitas multikultur.

Di sisi lain, terdapat berbagai fenomena konflik yang berakar pada pemurnian antar ajaran. Edi membingkainya dalam ilustrasi agama Islam. Menurutnya, konflik antar golongan-golongan islam telah lama terjadi di Jawa. Sebagian besar konflik didasari atas maraknya bid’ah yang terjadi setelah adanya percampuran antara Islam dengan kepercayaan masyarakat jawa.

Edi kemudian menggambarkan bahwa setidaknya proses silang budaya asia didalangi oleh tiga agen, yakni: Pertama, orang laut, adalah masyarakat yang hidup di daerah dekat pantai dan terus berpindah-pindah. Salah satu dampak yang dihasilkan dari interaksi orang laut adalah penyebaran agama (Islam) dan kebudayaan. Kedua,  borjuis, yakni salah satu kelas dalam masyarakat yang menguasi wilayah perdagangan. Kelas ini memiliki pengaruh yang cukup besar dalam proses silang budaya. Ketiga, jaringan Islam agraris, menebarnya Islam ke seluruh antero pelosok Jawa disebabkan oleh adanya jaringan orang Islam agraris. Wilayah dataran pedalaman jawa atau dataran tinggi-yang sebagian besar penduduknya sebagai petani-memang susah dijangkau oleh para wali. Oleh karena itu, utusan-utusan agama islam yang berjejaring tersebut membawa misi keislaman juga dengan perubahan sosial budaya.

Setelah 30 menit penyampaian materi berlangsung, diskusi beranjak pada proses dialog dan pendalaman. Beberapa penanya dan penyanggah mengeluarkan suara memberikan warna segar dalam khazanah keilmuan. Mujtabah misalnya, ia melontarkan pertanyaan mengenai pengaruh fundamental dari ketiga bangsa tersebut terhadap Jawa. Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh para peserta diskusi. Ada yang menjawab mengenai India yang mempengaruhi struktur sosial dan struktur pemerintahan kerajaan Jawa.

Diskusi berakhir pada pukul 23.30 dengan kondisi gelas kopi yang telah kosong. Berlainan dengan itu, pikiran peserta justru penuh akan pengetahuan baru dan pertanyaan-pertanyaan yang akan terjawab pada diskusi selanjutnya.

Kembali pada Mangunwijaya, seperti yang sempat disinggung di muka, bahwa “setiap zaman adalah semacam mandala (wilayah energi gaib)…” Maka dari itu, sejarah peradaban tidak boleh dilupakan, tapi bukan berarti untuk dihafalkan. Melainkan dipelajari -yang sebagaimana Mangunwijaya melanjutkan- “sebagai kata kerja bukan kata benda”.