Politik adalah seni dalam segala kemungkinan

Belum berlalu dengan hangat suhu panas pilgub Jakarta berakhir. Suasana riuh itu pun masih terasa. Debat-debat kecil belum selesai jua, beranda-beranda Facebook, Twitter, Instagram maupun WhatsApp masih menyisakan rasa itu. Rasa pahit, getir, manis dan bahagianya politik, buah simalakama, buah khuldi yang dijanjikan dengan kontrak politik.

Saya, yang kini kembali ke habibat masyarakat petani berharap suasana politik yang kreatif, dinamis, pendewasaan politik tumbuh di daerah perdesaan. Karena desa jadi kekuatan ekonomi, desa adalah kekuatan sejati, desa adalah masa depan kita dan karena desa adalah bintang, kata kang Iwan fals.

Belum hilang dari ingatan, kenang Pilgub Jatim 2013 tahun lalu, selepas jamaah sholat, seorang pengurus masjid menghampiriku dan bilang, “Piye-piyeo jangka panjange wong wedok gak seadoh wong lanang.” Seolah menegaskan untuk memilih pemimpin laki-laki. Pada Pilgub tahun depan 2018, yang kembali mengusung sosok perempuan (Khofifah Indar P), nada yang sama nggak bakalan terucap dari pak tua itu, ia lebih dulu dipanggil Sang Maha Kuasa.

Jujur, ingin ku kembalikan omongan itu. Emang siapa Ratu Bilqis. Bagaimana hewan, jin, ilmuan mukmin dan nabi Nuh menakjubinya? Tapi saya tarik kembali angan itu, ruang yang ia tetapkan untukku bukan ruang diskusi, tapi sebuah petuah-oleh yang tua kepada yang muda. Saya sadari hal itu. Akhirnya perdebatan antara burung kuntul mematuk belahan duren selesai pula.

Lain dulu lain sekarang. Saat jalan-jalan desa berdasar beton menyusuri kampung-kampung dan persawahan. Anak-anak kecil hingga tua melek gawai, gadget dan media sosial. Perbincangan politik tak lagi berbatas waktu dan daerah, sosial-kultur maupun strata kependidikan. Kasak-kusuk siapa pengantin politik Pilgub Jatim 2018 mulai terdengar.

Jika kamu berada di antara mereka, suasana harmonis ini mulai terasa di warung-warung kopi. Maklum, di antara sawah, rumah dan masjid, warung kopi adalah pusat informasi. Kegelisahan, kesusahan, kesenangan dan perdebatan, berkumpul di tempat yang sekaligus dijadikan tempat totoan siapa yang menang nanti.

Di sebuah warung kopi selir khas masyarakat petani. Kasak-kusuk itu dimulai;

Kata si mbah dulu, “Masa Pemilu kerap datang berbarengan dengan musim layang layang tiba.” Wak Dakir mengawali.

“Lah wong ibarat layangan, nek menang mundak duwur mentit ora ketok moto. Yo koyok ngono iku jago nek menang. Nek kalah mundak melayu adoh sisan (layang-layang kalau menang dia akan jauh terbang tinggi. Jika kalah entah ada di mana,)” terang lawan bicaranya.

Dari sini saya faham, peristiwa politik atau apapun yang merupakan gawe bersama, masyarakat selalu memiliki pandangan fenomena tersebut dengan kondisi alam. Kebermaknaan politik, misalnya, mereka ukur dari pengertian alam akan permainan layang-layang. Ibarat seutas tali layang-layang, seorang pemimpin gampang putus terkena hembusan angin kuasa, yang sarat penyelewengan, kebijakan tak berpihak, menumpuk kekayaan atau mementingkan golongan. Tidak heran jika di masyarakat perdesaan, pesta demokrasi yang paling panas adalah pemilihan kepala desa. Betapapun susahnya memilih pemimpin, mulai presiden, gubernur dan bupati, yang paling mereka takuti tetap kepala desa. Karena penguasa desa adalah penguasa daerah tempat mereka hidup, beranak dan mati. Seutas tali layang ini tak jauh dari mereka.

Terlebih lagi, kedewasaan berdemokrasi ala layang-layang buatan rakyat tetap menghargai calon yang kalah. Layang-layang yang putus dari benang tak semata-mata kalah.

Anak-anak kecil layaknya konstituen, beradu tangkas mengunggulkan jagonya masing-masing. Jika layang-layang itu putus mereka pun berlomba menggapai dan meraihnya. Jika terselamatkan, layang itu tetap utuh dengan bentuknya. Jika tidak, ia bak sampah yang tak lagi berdaya. Sobek, patah.

Calon yang bagus dan ideal, berintegritas dan profesional namun tidak terpilih, tentu tidak lantas ditinggalkan, menang-kalah bukan isi calon semata. Ada taktik dan strategi, baik-buruk adalah seni kemungkinan dari politik itu sendiri. Maka, siapa pun yang kalah, yang baik menurut mereka, tetap digadang-gadang, dirawat, dilindungi dan didambakan kembali.

Dan, selanjutnya! Apa demokrasi ala layang-layang?

Pertama, bagi masyarakat ndeso (baca, petani), pemilu adalah pilihan, pilihan adalah pilihan, kalah-menang politik ini adalah kejadian bersama, gawe raya. Dari layang-layang, petani desa faham jika janji-janji pemilu tidak ada, pemimpin terpilih niscaya terbang tinggi di atas mereka, dan suatu saat putus terkena tiupan angin surga.

Kedua, hasil politik ala layang-layang adalah berdemokrasi pada apa yang bisa digapai. Manfaat hidup, tugas dan kewajiban harus terus berputar. Mereka tetap membajak sawah dan menyemainya, meski kalah pilihan, “dibodohi” janji palsu dan sebagainya. Toh mereka tetap menata kembali suasana desa yang permai dan sejuk. Jika mereka mogok, siapa pahlawan pangan di bumi Indonesia ini. Banyak nyawa yang mereka tanggung.

Ketiga, layang-layang putus atau menang, keduanya menyenangkan. Yang kalah niscaya dicari-cari, dieluh-eluh karena kelebihannya. Yang menang, didamba-damba untuk turun kembali, dimain-mainkan seindah pesawat mengibar di angkasa.

Manifesto Wong Ndeso: Orang yang kalah dalam pemilihan umum cenderung dihina, namun di satu sisi dia tetap dipuja dan dihormati. Namun, si pemenangnya kadang sombong dan lupa diri, mereka tidak sadar butuh beribu-ribu karangan (program) untuk halangan dikenang.