Di semenanjung Bengawan Solo, kebiasaan ketika menyambut musim penghujan tak sekedar perayaan akan turunnya rezeki dari Tuhan. Lebih jauh, bagi masyarakat di sekitarnya, hujan adalah tentang pengharapan, tentang hijrah dari suatu masalah, tentang pembaharuan dalam ke-kuno-an. Perkaranya tak sekedar keberadaan air, namun juga pada semangat kerja yang lebih menggelora ketika hujan menetes di kepala.

Aji misalnya, pria paruh baya beranak dua ini begitu bahagia menyambut datangnya musim hujan. Senyumnya merekah, ada kata yang tak sanggup diucap, ada cinta yang tak mampu diungkap. Sebagai seorang buruh tani, Aji lebih menggantungkan hidupnya pada keberpihakan musim dan temperatur cuaca. Meski air di Bengawan Solo memberikan garansi stock air yang melimpah, toh kekeringan tak pernah absen melanda.

Bagi Aji, bekerja sembari menikmati guyuran air berkah adalah sebuah nikmat tersendiri. Bekerja dalam naungan mendung seperti mengetahui anaknya pulang sekolah membawa nilai 100, atau pergi ke pasar menjual hasil panen dan pulang dengan uang yang cukup banyak. Dan, sore itu Aji tau, bahwa esok hujan akan datang. Ia melihat seberkas sinar jika boleh meminjam judul lagu milik penyanyi beken macam Nike Ardila.

∼∼

Di pihak lain, kondisi tersebut sama dengan yang dirasakan Noko ketika kepulangannya di akhir November. Ada yang berbeda dari kepulangannya, entah dengan sesuatu yang akan membuatnya tersenyum atau perihal yang membuatnya mengernyitkan dahi. Seberkas sinar yang dirasakannya tak mampu ia terjemahkan dengan baik. Padahal, biasanya Noko adalah tipikal orang yang memiliki insting analisis yang tajam.

Menelisik lebih dalam, Noko terlahir dengan realita bahwa dirinya adalah anak desa. Putra seorang petani yang oleh ayahnya dicitakan untuk menjadi panutan, kelak di masa depan, ketika semua sudah tertata dan sesuai dengan tempatnya. Oleh orang tuanya, Noko tak pernah diberikan pressure dalam menentukan masa depan. “Bapak cuma ingin melihat kamu menjadi orang yang ngerti. Bapak tidak butuh anak yang pintar atau banyak uang. Bakalan percuma juga kalau kamu gak ngerti.” Kata-kata yang hampir seribu kali terngiang di telinganya.

Doktrin semacam ini sering kali ditemui di kalangan masyarakat desa, terlebih pada mereka yang kesehariannya berkutat pada kegiatan agrokompleks dan singgungan dengan alam. Oleh mereka yang tergabung dalam kawasan masyarakat ndeso, mereka yang lebih menghargai makna menjalani hidup dengan pengertian, bukan dengan kepintaran, jabatan, apalagi uang. Dari pola pikir semacam ini, lahir generasi yang toleran, bukan generasi saling sikut dalam arena perlombaan kehidupan.

Setelah membersihkan diri, Noko mendekati ibunya yang sedang asyik masak di pawon. Kepulan asap dan hawa panas nan menggosongkan kulit serasa dijadikan sebagai aroma terapi di rumah bagian belakang miliknya. Obrolan ringan seputar kehidupan dan kondisi di desa dibahas dengan menarik oleh pasangan ibu-anak ini. Sang Ibu bercerita mengenai kondisi perekonomian warga desanya yang semakin hari semakin sulit. Jika dahulu makan menggunakan ikan dan beberapa sayuran, hari ini menemui tahu-tempe di atas piring saja sudah Alhamdulillah.

Obrolan keduanya berlanjut dengan curhatan Noko akan masa depannya. Ia menjelaskan panjang lebar mengenai keinginan-keinginan yang hingga detik ini belum mampu diraih. Ibunya mendengarkan dengan sabar, khas sebagaimana disebutkan di sinetron-sinetron sebagai ibu-ibu calon penghuni surga. Perbincangan seputar pekerjaan dan jodoh tak luput dari pembahasan yang diselingi beberapa suara minor letusan kayu bakar. Panjang lebar Noko bercerita, sementara Sang Ibu mendengarkan dengan tatapan teduhnya sambil beberapa kali menjaga suhu perapian pawon.

Setelah selesai berkisah, Sang Ibu mulai angkat bicara. Pelan namun pasti, Sang Ibu membelejeti pola pikir Noko yang mulai terkotak-kotak dalam sekat pengharapan. Dimensi supernova coba dibuka dengan halus oleh ibunya, saking halus dan menusuknya Noko tak kuasa menahan air mata di pipinya. Ya. Noko adalah sosok pria yang lembut hatinya, meski di depan semua orang tak pernah hilang simpul senyum di bibirnya.  Ia menunduk membisu, tak satu katapun meluncur dari mulutnya ketika Sang Ibu memberikan nasihat kepadanya. Ia merenung, meratap, merajut, mengiyakan dan mengamini segala hal yang dikatakan oleh malaikat bernama ibu tersebut.

Setelahnya, Noko mendekati Sang Ibu. Dari lubuk hatinya, ingin rasanya memeluk wanita yang merawatnya sedari kecil tersebut. Namun, niat itu ia urungkan. Bagaimanapun Noko tau bahwa tidak ada budaya desa yang melazimkan sebuah pelukan, meskipun dengan orang tua sendiri. Akhirnya, ia memilih untuk membantu Sang Ibu memasak. Ia harus dan mesti sadar, sebagai tiga bersaudara yang kebetulan laki-laki semua, pekerjaan rumah tangga juga menjadi kegiatan yang musykil tak dibiasakan.

Noko menatap dalam-dalam wajah Sang Ibu yang tengah mengiris bawang. Diperhatikan mendetail setiap guratan keriput yang mengisahkan perjuangan dan pengorbanan atas jabatan sebagai orang tua. Baginya, Bapak bak otak, yang mengatur dan menjalankan setiap aktivitas tubuh. Sedang Ibu bak hati, yang menjaga dan mengendalikan aktivitas yang hendak dijalankan otak. Kiranya Noko memang sedang membutuhkan laut untuk curhat, sedang, oleh ibunya, ia diberikan samudera untuk berkeluh kesah dan meminta nasihat.