Mencermati Substansi RUU Tembakau (habis)

 BISNIS tembakau global berarti bisnis besar yang melibatkan kegiatan ekspor-impor internasional. Pada 2012 mendatang, pasar tembakau diproyeksikan mencapai USD 464,4 miliar (tobaccoatlas.org/companies.html). Sedangkan negara-negara produsen terbesar dunia berturut-turut adalah China, India, Brazil dan Amerika. Indonesia menduduki urutan ke-8 sebagai produsen tembakau terbesar di dunia (tobaccoatlas.org/trade.html).

 

Produksi Tembakau terbesar di dunia (000 ton)

No       negara              Produksi          % dunia

1          China               2298,8             35

2          India                595,4

3          Brazil               520,7

4          USA                408,2

5          Uni Eropa        314,5

6          Zimbabwe       204,9

7          Turki                193,9

8          Indonesia        166,6

9          Rusia               116,8

10        Malawi            108,0

Total                6137,7

Sumber: fao.org/english/newsroom/news/2003/26919-en.html

 

Sedangkan konsumsi tembakau negara-negara dunia berturut-turut adalah China, Uni Eropa, India, AS, Brazil, Jepang, Indonesia, Turki, Pakistan. Jika disimak lebih teliti, urutan konsumen tembakau terbesar tersebut mengikuti jumlah penduduk suatu negara.

 

Lanskap Bisnis Tembakau Dunia

 Industri tembakau China dimonopoli oleh China Monopoly Tobacco Company. Sedangkan empat perusahaan terbesar tembakau internasional adalah British American Tobacco (BAT), Philip Morris International (PMI), Japan Tobacco International (JTI) dan Imperial Tobacco.

Pada 1902, BAT dibentuk atas modal patungan Inggris Imperial Tobacco dan American Tobacco Company. BAT melakukan ekspansi Hindia Barat pada 1904, seperti India, Sri Lanka, Mesir pada 1905, Belanda, Belgia, Swedia dan Norwegia pada 1906, Finlandia, Indonesia dan Afrika Timur pada 1908 dan Malaysia pada 1911. Pada 2009, BAT mengakuisisi Bentoel senilai USD 580 juta.

PMI berdiri pada 1847 di London’s Bond Street sebagai perusahaan keluarga. Pada 1881 memilih go public dan Leopold Morris, sang pemilik, bergabung dengan Joseph Grunebaum mendirikan Philip Morris company and Grunebaum, Ltd (pmi.com/eng/about_us). Lalu perusahaan ini banyak melakukan akuisisi banyak perusahaan negara. Di Indonesia, PMI membeli 40% saham PT HM Sampoerna pada 2005. Perlahan-lahan, PMI mendominasi saham kepemilikan di Sampoerna hingga 97%.

JTI merupakan pengusaha industri tembakau ketiga terbesar dunia. JTI mempunyai pangsa pasar global 11 % dan kapitalisasi pasar USD 32 miliar (jti.com/about/about_facts). Sedangkan Imperial Tobacco berdiri pada 1901 dan pada 1996 terdaftar di London Stock Exchange atas nama Imperial Tobacco Group PLC.

 

Eksisting Pertembakauan Indonesia

Sebaliknya, pertembakauan di Indonesia menunjukkan laju penurunan tajam. Luas lahan perkebunan dan pertanian rakyat menjadi ancaman produksi tembakau. Keadaan itu diperparah oleh kondisi cuaca yang tidak menentu. Direktorat Perkebunan (2010) mencatat terjadi penurunan luas lahan produksi tembakau sebesar 28,6 % antara 2000 hingga 2006. Efeknya jelas berimbas pada kapasitas produksi berupa penurunan sebesar 28, 41 %.

Di bagian lain, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi rokok. Target produksi rokok Indonesia pada 2015 dipatok 260 miliar batang. Sebelumnya, pada 2008 pemerintah mematok target produksi sebanyak 240 miliar batang. Kondisi ini jelas berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan. Lalu, dari mana bahan baku untuk meningkatkan produksi rokok jika kapasitas produksi saja turun sebanyak itu? Tidak lain bahan baku itu diperoleh dengan cara mengimpor dari negara lain.

 

Amerika pun Bermain Tembakau

Sementara, permainan tidak fair coba dilakukan oleh Pemerintah Amerika. US Food and Drug Administration (BPOM-nya AS) mendorong terbentuknya regulasi Tobacco Control Act yang melarang penjualan rokok kretek atau aromatik di AS. Alasan yang disampaikan karena rokok kretek, yang banyak diproduksi Indonesia, lebih berbahaya daripada rokok tidak beraroma.

Terang saja, karena regulasi itu Indonesia kehilangan pasar ekspor senilai USD 6,4 juta. Padahal, pada 2008 Indonesia masih mengekspor 298,93 juta batang atau senilai USD 6,7 juta. Pada 2009, Indonesia mengekspor 267,3 juta batang atau senilai USD 6,45 juta. Nah, akibat pemberlakukan itu, pada 2010 lalu Indonesia tidak bisa mengekspor rokok aromatik ke AS. Kebijakan diskriminatif ini jelas-jelas merugikan perdagangan bilateral Indonesia ke AS. Bagaimana menurut anda? (*)

1 COMMENT