Pasca peredaran film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2), dunia perfilman Indonesia nampak lesu. Sempat muncul badai yang dibawa Warkop DKI Reborn. Namun, bisa dibilang film ini tidak bisa dikatakan istimewa dari segi cerita. Nahh, kebetulannya, di akhir tahun ini, atau tepatnya 1 Desember kemarin, sebuah film dengan cerita nomor wahid baru saja dirilis.

Film berjudul Cinta Laki-Laki Biasa yang dibintangi oleh Deva Mahendra dan Velove Vexia hadir di saat semua orang baru saja beranjak dari playlist November Rain menuju Back to December. Film garapan sutradara Guntur Soeharjanto dengan rumah produksi StarVision yang diadaptasi dari Novel dengan judul yang sama karya Asma Nadia ini menjadi penambah hawa dingin nan memilukan di penghujung 2016.

Jalan Cerita

Nania (Velove Vexia) adalah seorang gadis cantik yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ia kini sedang menempuh aktivitas magang di sebuah perusahaan untuk mengejar gelar arsiteknya. Di tempat magangnya tersebut, Nania bertemu dengan Rafli (Deva Mahendra), mandor proyek pembangunan yang sekaligus menjadi mentornya (red: pembimbing lapang).

Secara background kehidupan, Rafli berbanding terbalik dengan Nania. Ia hanyalah seorang tamatan D3 yang terlahir dari keluarga biasa dan sederhana. Kesederhanaan yang juga tertanam dalam karakter dan sifat Rafli sehari-hari.

“Mirip dengan orangnya!” ungkap Nania saat melihat mobil Rafli.
“Biasa maksudnya?” tanya Rafli.
Nania tersenyum lantas berucap, “Antik!”

Dalam urusan pekerjaan, Rafli adalah seorang individu yang jujur dan berdedikasi. Ia senantiasa mengusahakan yang terbaik untuk proyek pembangunannya. Pun begitu dengan para pekerjanya, ia begitu pengertian dan simpatik kepada semua bawahannya.

Jalinan hubungan keduanya makin dekat hari demi hari. Nania kagum dengan sifat Rafli yang baik dan sederhana. Kekagumannya makin bertambah manakala ia mengetahui sosok Rafli yang religius. Setali tiga uang. Rafli yang masih sendiri mulai menaruh perhatian pada Nania. Ia tersihir dengan kecantikan dan kecerdasan yang dimiliki oleh Nania.

Perbedaan kasta memang sepertinya masih menjadi momok dalam masyarakat Indonesia. Hal ini pula yang terjadi dalam hubungan antara Rafli dan Nania. Keduanya dihadapkan pada permasalahan akut bernama latar belakang dan strata sosial.

Nania yang tengah berbahagia mengundang Rafli datang ke wisudanya. Rafli yang kebingungan memutuskan untuk datang. Sayang, ia tidak berani menampakkan dirinya. Ia tau diri jika kemungkinan kedatangannya akan lebih tidak diterima daripada sebaliknya.

Dari kejauhan, ia ikut merasakan kebahagiaan Nania dan keluarga yang dipenuhi canda tawa. Dan di detik yang sama, ia melihat sesosok laki-laki tengah mengucapkan selamat pada Nania. Ia adalah Tio (Nino Fernandez), lelaki tampan dengan sematan titel dokter. Sejak lama, Tio digadang-gadang untuk dijodohkan dengan Nania. Bebet-Bibit-Bobot. Pertimbangan yang dijadikan dasar oleh keluarga Nania.

Atas itu semua dan kesibukan masing-masing, hubungan keduanya menjadi renggang. Dua tahun lamanya mereka tidak bertemu dan bertukar kabar. Hingga akhirnya, mereka berjumpa kembali oleh karena pekerjaan yang mengharuskan. Mereka pun kembali dekat.

“Nania Dinda Wirawan, bersediakah kamu taaruf denganku, Muhammad Rafli Iman?”

Niatan tersebut mendapat penolakan dari keluarga besar Nania. Terutama sang ibu dan ketiga kakaknya. Sebagaimana yang banyak terjadi dalam kehidupan nyata, dipicu kekhawatiran anaknya akan “menderita”, sang ibu dan saudara-saudaranya melakukan penolakan dan bahkan acapkali turut campur dalam urusan rumah tangga Rafli-Nania.

Suatu ketika, Nania mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kelumpuhan dan kehilangan ingatan. Pada kurun waktu tersebut, Rafli dengan sabar menunjukkan kesabaran dan kesetiaan untuk mengupayakan kesembuhan Nania. Sayangnya, Nania bahkan tidak ingat suami dan dua anaknya.

“Kenapa aku nikah sama kamu? Apa orang tua aku mengizinkan pernikahan kita? Apa aku cinta sama kamu?”

Ujian yang dihadapi Rafli bertambah tatkala ia mendapati hubungan Nania yang kian dekat dengan Tio. Didapuk sebagi dokter yang menggawangi proses penyembuhan Nania, mau tidak mau Nania hampir tiap hari menghabiskan waktu dengan Tio. Dan Rafli, ia merasakan kehancuran dan kecemburuan pada saat yang bersamaan.

“Cukup. Cukup, Sayang. Cukup. Aku bisa saja menjawab ribuan pertanyaan kamu tentang pernikahan kita. Tapi percuma, percuma. Percuma kalau tidak ada satupun jawaban dariku yang kamu terima, Nania.”

Meski begitu, Rafli tak pernah berhenti berdoa dan berikhtiar untuk mengembalikan memori dan kenangan indah hubungan mereka.

“Hanya” Cinta Laki-Laki Biasa

Cinta Laki-Laki Biasa menghadirkan cerita yang tidak jauh dari realita kekinian. Bibit-Bebet-Bobot yang di film ini sepertinya memang disengaja untuk dijadikan tumpuan cerita. Tidak hanya sebelum pernikahan, setelah pernikahan, atau bahkan setelah Nania mengalami kecelakaan, hal tersebut masih saja menjadi sentral cerita.

Pemahaman soal bibit-bebet-bobot yang diamini oleh keluarga Nania seperti menjadi prasyarat wajib saat menentukan jodoh. Tidak ada yang salah dengan pandangan macam tersebut. Namun, di atas semua itu, kebahagiaan sebuah pernikahan sebenarnya hanya bisa dirasakan oleh suami istri yang menjalaninya. Kebahagiaan, juga, ditentukan oleh banyak faktor, yang bisa jadi, harta dan strata, bisa saja tidak termasuk di dalamnya.

“Kebahagiaan terlalu sempit, kalau cuma dimaknai dengan materi.”

Dalam sosoknya sebagai Rafli, bisa jadi Deva akan dipuja dalam waktu yang lama. Bahkan, besar kemungkinan, karakter Rafli sebagai lelaki biasa dengan cinta yang luar biasa akan menjadi standar baru lelaki idaman pasca memudarnya gelegar sosok Habibie dan Rangga. Cinta dan kesetiannya yang begitu besar pada Nania akan dijadikan pedoman para wanita.

Pun begitu dengan Nania beserta segala yang ia punya dan terima. Ia yang terlahir dari orang kaya dengan kecantikan dan kecerdasan yang luar biasa mau dan menerima Rafli yang biasa. Ia tetap tersenyum, meski mendapat nyinyir dari semua orang, termasuk keluarganya.

“Cinta bukan sesuatu yang dipelajari. Cinta tumbuh dan menguat dari apa yang kita lewati di masa lalu.”

Secara keseluruhan, film ini sangat recommended untuk disaksikan di penghujung tahun. Kolaborasi yang terjalin antara Asma Nadia, Guntur Soeharjanto, dan Alim Sudio menghasilkan tontonan yang mengharukan nan memilukan. Apalagi musim penghujan tengah menjelang. Pastikan ajak orang tersayang untuk dijadikan teman dan sandaran. Dan satu lagi, siapkan tisu, jika jaket Anda tidak mau dibasahi air mata.

 

 

Sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/HziqmgM-7JA/maxresdefault.jpg