Bonek, istilah yang lagi mengusik hatiku. Sebenarnya aku malu karena kini aku menjadi bagian dari bondo nekat itu, tak sadar aku hanyut dalam “kebonekan”, teryata aku pun anggota dari “kebonekan” yang menjadi tren saat ini. Ahhh, tak tahu aku apakah kenekatan ini telah mewabah dalam berbagai lapisan masyarakatku. Akupun juga nekat ketika lari dari desa untuk kuliah di Jogja.

Nekat itu pun mungkin juga telah menjangkiti para penguasaku, mereka mengerti hukum tapi korupsi tiap hari, Memang kekuasaan menjanjikan kenikmatan-kenikmatan. bagaimana tidak nekat, lawong tidak punya apa-apa saja berani menyalonkan diri menjadi wakil rakyat. hutang kanan kiri, tanah warisan dijual, rumah tempat tinggal anak istri bernaung ikut dijadikan jaminan Bank, semua itu demi mencalonkan diri menjadi pengusa.

Seorang tukang adu ayam pun sekarang ikut-ikutan dalam pesta kenekatan ini. Bukan soal ketahanan ekonomi, namun tanpa mempunyai ilmu yang mumpuni untuk sedikit berbicara tentang demokrasi, hak angket, budgeting, controlling dan legislasing, atau ini juga memberikan fakta baru dari kenekatan itu. para pembesar kita telah secara nekat merubah gedung wakil rakyat menjadi sebuah “kebun binatang”. Betapa tidak, disana ada cicak, buaya, kerbau dan berbagai jenis burung yang berkicau sahut-sahutan. ada yang berkicau koalisi ada juga yang berkicau oposisi tapi nyatanya mereka tetep nekat terbang dari sangkar koridor demi bagian-bagian pisang yang segar itu. betapa nekatnya bangsaku.

Jelaslah kita juga tahu, Bonek itu nama yang diberikan kepada suporter bajul ijo, Persebaya, tapi kisah kenekatan bonek ternyata jadi budaya kita sehari-hari. Ibarat bermain api, terbakarlah kita ini. tapi dengan alasan para pemadam kebakaran siap siaga maka sah-sah saja kalau kita terbakar, yang penting tidak menjadi abu dan yang lebih penting lagi bisa melanjutkan kenekatan yang telah dicita-citakan.

Nekat, semakin tak mengerti aku dengan nekat ini, dia bisa menjadikan orang sabar jadi beringas, mengubah cinta jadi benci dan mengubah kehati-hatian jadi nekad itu sendiri. Tapi kenapa diriku juga telah menjadi anggota dari budaya laten nekat ini, ataukah lingkungan kita telah dipenuhi kenekatan-kenekatan, entah kenekatan yang telah dilembagakan oleh para aktivis nekat atau para pendobrak dan penghujat nekat yang secara tidak langsung mereka juga ternyata telah nekat.

Maka, benarkah nekat telah menjadi budaya bangsa kita? apakah dengan kenekatan itu Majapahit menjadi kerajaan yang besar, apakah dengan kenekatan itu pelaut-pelaut penisi menerjang ombak, dan apakah dengan kenekatan itu pejuang kita merebut kemerdekaan bangsa dan juga apakah dengan kenekatan kita mampu meruntuhkan rezim orba?. Entahlah.

Aya nawafi’ maksum
Krapyak 18-02-2010