Judul : Bridge Of Spies
Sutradara : Steven Spielberg
Pemain : Tom Hanks, Amy Ryan, Billy Magnussen
Produksi : Dreamworks, 20th Century Fox and Participant Media
Tahun : 2015

Film dengan setting tahun 1957 ini diangkat dari kisah nyata seorang pengacara Amerika yang berhasil bernegosiasi dengan 2 negara sekaligus. Seperti halnya film lain yang disutradarai oleh Steven Spielberg dan dibintangi oleh Tom Hanks, film ini juga menyuguhkan adegan–adegan kelas dunia di industri perfilman. Permainan kata dan kekuatan body language milik Spielberg kembali disuguhkan dalam film ini.

Kisah ini dimulai pada masa perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Dimana dunia sedang memiliki dua matahari. Bukan hanya pertarungan dua ideologi besar Liberal dan Komunis, namun dua negara ini juga berperang dalam hal spionase. Uni Soviet dengan azas komunis menjadi santapan empuk bagi barat untuk melakukan spionase. Alhasil, pihak barat mendapatkan data rahasia milik Uni Soviet yang membuat mereka geram.

Film ini dimulai dengan penangkapan seorang agen Uni Soviet di Brooklyn oleh CIA (Amerika Serikat). Agen tersebut bernama Rudolf Ivanovich Abel. Pasca tertangkapnya Abel, tidak ada kuasa hukum yang berani menjadi pengacaranya karena takut dicap sebagai penghianat negara (dari sini bisa dibayangkan bagaimana Amerika sangat mengakar di hati setiap insan). James Donovan (Tom Hanks) yang dalam hal ini terbiasa menangani kasus asuransi mendapatkan tawaran untuk menangani kasus Abel. Tawaran tersebut membuat posisi Donovan terjepit di antara profesionalisme kerja dan masyarakat yang akan menganggap dirinya penghianat. Bahkan, posisi Donovan dan keluarganya sempat terancam ketika hakim memenangkan pembelaan untuknya membebaskan Abel dari hukuman mati.

aksi pengacara james donovan via google
Aksi pengacara James Donovan via google

Tidak lama setelah penetapan hukuman kurungan 30 Tahun penjara untuk Abel, Uni Soviet berhasil menembak kapal mata–mata milik Amerika. Pasca serangan tersebut, posisi Amerika dan Soviet kini berimbang karena masing-masing memiliki satu sandera mata–mata. Setali tiga uang, pasca penangkapan pilot Amerika, Jerman yang sedang gencar–gencarnya dakwah ideologi sedang disibukkan dalam proyek pembangunan Tembok Berlin. Ada slentingan bahwa pembangunan tersebut menggunakan Semen Gresik. Pembangunan tersebut dimaksudkan untuk memisahkan Jerman Barat dan Timur. Dari pembangunan tersebut pula, seorang mahasiswa Amerika bernama Frederich Pryor berurusan dengan militer setempat. Pryor dijatuhi hukuman tahanan dan menjadi tawanan tentara Jerman Timur.

Agen CIA menghubungi Donovan untuk membebaskan agen Powers yang ditahan oleh Uni Soviet. Sebagai seorang negosiator, Donovan diminta untuk dapat melakukan pertukaran tahanan antara Powers dengan Abel. Namun, Donovan yang mendengar berita tersebut tergerak hatinya. Di Soviet inilah Donovan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Soviet untuk melakukan negosisasi pertukaran tahanan. Niat dari Donovan untuk membebaskan dua tahanan sekaligus ternyata terhambat karena Pryor adalah tahanan milik Jerman Timur. Akhirnya, Donovan harus berangkat ke Jerman Timur untuk menemui Vogel dan Menteri Luar Negeri Jerman Timur.

Donovan Melintasi Tembok Berlin via warisboring.com
Donovan melintasi Tembok Berlin via warisboring.com

Di akhir film ditampilkan pula penjelasan bahwa Donovan akhirnya ditunjuk oleh Presiden Kennedy untuk menjadi negosiator utama di Amerika. Karena jasanya, banyak kasus yang dimenangkan oleh Amerika. Salah satu yang paling menjadi buah bibir adalah keberhasilannya membebaskan ribuan tawanan di Teluk Babi (Kuba) pada tahun 1962.

Film ini tidak begitu banyak menampilkan klimaks sebagaimana kebiasaan film–film Hollywood. Karena diangkat dari kisah nyata, klimaks yang terjadi pun tidak terlalu terasa saat kita menonton. Namun, gambaran akan kondisi pada masa perang dingin akan sangat bisa dirasakan oleh penonton. Mulai dari pembangunan tembok Berlin hingga konflik AS dengan Uni Soviet. Satu hal yang membuat saya salut dengan film ini adalah tidak banyak menampilkan sosok perempuan yang biasanya menjadi titik klimaks sebuah film. Awal kisah dari film ini hingga akhir akan terasa membosankan bagi mereka yang tidak menyukai permainan kata–kata dan intrik negosiasi, padahal film ini menampilkan teknik negosiasi kelas dunia.