Lantunan ayat suci Alquran pagi itu sayup-sayup terdengar dari luar Masjid yang ada di tengah kompleks Sekolah Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Cacat Netra Malang. Terlihat di dalam Masjid empat orang sedang tekun meraba kertas putih yang tidak ada tulisannya sama sekali. Sedang dari bibirnya keluar bacaan Alquran yang lirih-lirih terdengar seperti salah satu ayat Surat Al-Mujadalah. Keempat orang itu adalah Musdalifah (17), Vina Trias Nurdiantika (22), Abdus Salam (46) dan Mohtarom (43). Mereka adalah siswa sekolah tunanetra di Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Cacat Netra Malang.

Pagi itu Musdalifah, Vina, Abdus dan Mohtarom sedang melakukan tadarus Alquran. Kegiatan rutin yang mereka laksanakan selama Bulan Ramadan beberapa waktu yang lalu. Karena tunanetra, Alquran yang mereka baca adalah Alquran braille, sebuah Alquran khusus yang dibuat bagi tunanetra agar mereka bisa membaca Alquran layaknya orang normal. Yani Soeswantoro, guru arab braille di sekolah itu mengatakan, agar bisa membaca Alquran braille siswa tunanetra membutuhkan waktu antara enam bulan hingga satu tahun.’’Sangat tergantung siswanya. Kalau anaknya pintar mungkin enam bulan sudah bisa. Namun kalau agak lemah bisa sampai satu tahun,’’ katanya.

Meskipun bisa membaca Alquran, bacaan Musdalifah, Vina, Abdus dan Mohtarom memang belum selancar orang normal. Kadang kala mereka masih gratul-gratul (terbata-bata). Maklum, membaca Alquran braille diperlukan dua kemampuan khusus yakni kecepatan untuk meraba dan kecepatan untuk memutuskan huruf apa yang diraba. Semakin memiliki kecepatan dalam meraba, maka biasanya mereka juga akan memiliki daya baca yang cepat pula.’’Allah memang maha adil. Orang tunanetra dibekali dengan kemampuan indera perasa di atas orang normal. Saya saja yang mengajar tahunan di sini tidak bisa membaca Alquran braille,’’ tutur Yani.

Braille sendiri adalah sejenis sistem tulisan sentuh yang digunakan oleh orang tunanetra. Sistem ini diciptakan oleh ilmuwan Prancis yang bernama Louis Braille. Saat berumur 15 tahun Braille yang sudah buta sejak kecil menciptakan sistem tulisan tersebut untuk memudahkan tentara Prancis dalam membaca pesan yang masuk agar tetap bisa dibaca walaupun saat gelap. Pesan itu ditulis dengan rangkaian kombinasi garis dan titik menjadi satu kalimat yang cara membacanya dengan diraba. Sistem demikian kemudian dikenal dengan nama night writing. Sistem tulisan braille pertama kali digunakan di L’Institution Nationale des Jeunes Aveugles Paris untuk mengajar siswa tunanetra.

Pada tahun 1851 tulisan braille diajukan kepada Pemerintah Prancis agar diakui secara sah. Sejak saat itu penggunaan huruf braille mulai berkembang luas hingga mencapai negara-negara lain. Pada akhir abad ke-19 sistem tulisan ini diakui secara universal dan diberi nama ’’tulisan Braille’’. Di tahun 1956, Dewan Dunia untuk Kesejahteraan Tunanetra (The World Council for the Welfare of the Blind) menjadikan bekas rumah Louis Braille sebagai museum. Kediaman tersebut terletak di Coupvray, 40 km sebelah timur Paris.

Braille dan Hak Kesetaraan Tunanetra
Di Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Cacat Netra Malang ada sekitar ratusan tunanetra yang belajar huruf braille. Selain belajar braille, siswa yang dibagi dalam empat kelas yakni kelas dasar, kelas dasar I, kelas dasar II dan kelas atas juga belajar pemijatan, menyeterika, mengenali uang dan lain sebagainya. Yani mengatakan, orang tunanetra juga memiliki hak yang sama dengan orang normal pada umumnya. Menurut dia, bila orang normal memiliki hak pengetahuan maka orang tunanetra juga memiliki hak untuk itu.’’Karenanya kami ajarkan mereka membaca. Mungkin orang mengira tidak ada gunanya, tapi bagi mereka (tunanetra) sangat berguna sekali,’’ kata Yani.

Memang dengan memiliki kemampuan membaca, orang tunanetra akan memiliki kesempatan yang sama dengan orang normal. Meskipun tidak bisa disetarakan, namun dalam hal tertentu mereka dapat hidup layaknya manusia normal. Seperti membaca Alquran, berhitung, mengetahui nominal uang, membaca buku-buku pengetahuan dan lain sebagainya.

Contohnya Musdalifah. Tak terbesit dalam benaknya akan dapat membaca Alquran seperti saat ini layaknya orang normal. Dengan tingkat kebutaan yang mendekati total, tidak mungkin dirinya dapat membaca kitab suci Alquran tanpa belajar huruf arab braille di Unit Pelaksana Teknis Rehabilitasi Cacat Netra Malang. Lebih dari itu, Musdalifah juga tidak akan bisa membaca buku-buku pelajaran lain seperti matematika, agama dan lain sebagainya. Namun dengan memiliki kemampuan membaca, Musdalifah seakan bisa melihat separuh dunia gelap yang mengitarinya selama ini. Dunia putih yang terlihat karena keteguhannya dalam mempelajari huruf braille.

2 COMMENTS

  1. ASSALAMUALAIKUM WW,

    SAYA SANGAT INGIN TAHU BENTUK ALPHABETICS HURUF ARAB BRAILLE. MOHON INFORMASI DI WEB MANA SAYA BISA MELIHAT HURUF ARABA BRAILLE ITU?
    MAAF SAYA SANGAT TERBATAS MEMAKAI INTERNET JADI SECEPATNYA SAJA.

    WASSALAMUALAIKUM

    B ASUKI