Gerimis senja kala itu turun di sepanjang lembah Gunung Arjuno. Terlihat beberapa bapak-bapak di pinggiran sawah sedang mengusap keringat dan guyuran air berkah dari langit. Sekitar 100 kilometer arah barat daya, Noko sedang mencuci motor matic kesayangannya. Motor yang sudah sedari tahun 2008 menemani setiap langkah dan aktivitasnya.

Paginya, Noko baru saja pulang mengantarkan tamu yang berlibur untuk menikmati alam Bromo. Sudah sekitar 1 bulan Noko mencoba peruntungan di dunia bisnis tour dan travel. Meski masih dalam tahap penjajakan untuk memulai usaha, Noko tidak terlihat canggung ataupun amatiran dalam melayani tamu-tamunya.

Bagi Noko, usaha yang sedang digelutinya kali ini tidak hanya ia niatkan untuk menyalurkan hobi dan mencari rezeki saja. Ia juga mencoba menerapkan pengetahuan dan ajaran orang tua dan agamanya mengenai hubungan baik dengan alam (hablumminal alam).  Meski ia merupakan seorang sarjana, Noko tetap sama seperti dahulu, Noko yang senantiasa mensinergiskan pengetahuan, agama dan kepercayaan leluhur.

Setelah selesai mencuci motornya, ia kemudian duduk sembari menyalakan kretek dan nyeruput kopi yang dari tadi sudah memanggil-manggil. Ia habiskan beberapa menit untuk menikmati dalam-dalam surga favoritnya tersebut. Bram, teman satu kontrakannya tiba-tiba duduk disampingnya.

Bram : Gimana, Bro? Tamu-tamu pada rewel tidak?

Noko : Ya begitulah, Bro. Namanya juga pelayan jasa, modalnya kepercayaan dan senyuman.

Bram : Ada yang harus diperbaiki dengan bisnis ente. Coba perbaiki di marketing dan manajemennya.

Noko : Santai sajalah. Dijalani dulu saja. Masalah marketing dan manajemen nanti saja.

Bram : Naahhh, ini yang harus diperbaiki dari dirimu. Ente harus punya target dalam hidup, termasuk dalam hal mencari rezeki. Karena segala hal yang kita katakan dan lakukan dalam hidup, alam sekitar juga ikut mengamini.

Noko merenung beberapa saat, ia sadar bahwa selama ini hidup yang dijalaninya mengalir bak air. Ia juga membenarkan bahwa selama ini ia tidak pernah membuat target dalam menjalani hidup. Barangkali hal tersebut yang belum ia sentuh, ia lupa dengan hadits yang menganjurkan untuk beribadah guna menghadapi seolah ia akan mati esok dan bekerja keras seolah ia akan hidup selamanya.

Noko : Ya santailah. Namanya Jodoh, rezeki dan mati itukan sudah tercatat diatas sana.

Bram : Ini, ini namanya intelektual religius ortodoks. Kalau masalah mati, ane sepakat dengan yang kamu katakan. Tapi, untuk masalah jodoh dan rezeki butuh ikhtiar yang baik dan benar. Dan babakan marketing dan manajemen merupakan bentuk ikhtiar dalam mencari rezeki.

Noko : Bener ya. Ente cerdas ternyata, ente cukup lumayan (kemudian keduanya tertawa lepas)

Obrolan kemudian berakhir ketika sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara tarhim menjelang maghrib. Noko dan Bram berdiri kemudian masuk rumah. Dalam hati mereka diam-diam saling mendoakan untuk keberkahan dan kesuksesan kelak. Meski bukan dan tidak mungkin menjadi pasangan, nyatanya hubungan mereka lebih erat dari Spongebob dan Patrick, lebih romantis dibandingkan cerita Romeo dan Juliet.

3 COMMENTS