Bumi berkata matahari itu bergeraknya dari timur ke barat. Jadi matahari mengelilingi bumi. Sedangkan Matahari berkata bahwa bumilah yang bergerak mengelilingi bumi dengan proses revolusinya. Masing-masing mengklaim dirinya sebagai pusat (yang utama), yang lain hanya bergerak di sekitar kita (Einstein).

Fenomena di atas terjadi akibat adanya klaim pembenaran dari matahari dan bumi.  Bumi mengklaim dirinya sebagai pusat semesta dan matahari juga berpikir yang sama. Dalam hal ini penulis tidak akan membahas siapa yang benar di antara bumi dan matahari, karena sudah dapat dibuktikan mataharilah yang menjadi pusatnya.

Klaim kebenaran sudah lumrah kita lihat di kehidupan sehari-hari. Baik yang bergenre agama, politik, ekonomi, atau tentang cara hidup bersama. Banyak forum-forum dilakukan baik oleh organisasi, komunitas dan perkumpulan di warung kopi untuk menentukan kebenaran itu sendiri.

Pada dasarnya tidak ada kebenaran yang sejati kecuali kebenaran Tuhan, kata Sang Pendakwah. Terkadang kebenaran sendiri memberikan kerancuan berpikir pada orang yang menyebabkan semuanya sama–sama terasa benar dan juga salah. Kebenaran inilah yang dikatakan Einstein sebagai “gerak” relatif.

Dalam ilmu fisika, gerak relatif merupakan posisi atau kedudukan berdasarkan titik tertentu atau disebut sebagai titik acuan. Titik acuan digunakan untuk memandang cara berfikir seseorang dalam kebenaran itu sendiri. Tapi bukankah sungguh tidak bijak ketika seseorang menganggap dirinya benar dengan menggunakan cara pandangnya sendiri. Dalam hal ini, mari kita lihat silogisme dalam ilmu matematika.

Silogisme sebenarnya digunakan untuk memahami logika matematika itu sendiri. Namun, dalam hal ini logika menjadi sangat penting agar tidak terjadi kekeliruan berpikir. Selain itu, silogisme mampu membawa kita berpikir secara abstrak, cermat dan objektif serta mampu untuk menganalisa suatu kejadian.

Dalam penentuan benar dan salah, logika matematika harus memperhatikan pernyataan yang disampaikan apakah itu pernyataan tertutup (hal yang sudah pasti benar dan salahnya), pernyataan terbuka (hal yang belum pasti benar dan salahnya) atau pernyataan majemuk (gabungan dari penyataan). Umumnya dalam kehidupan sehari pernyataan akan mengikuti pada pernyataan majemuk dengan menangkap berbagai penyataan setiap orang sehingga logika berfikir yang di gunakan yaitu:

p q P,q
B B B
B S S
S B S
S S B

Hubungan antara P dan Q adalah konjungsi ( kata hubung “dan”), disjungsi (kata hubung “ atau”), implikasi (kata hubung “jika maka”) dan biimplikasi (kata hubung “jika dan hanya jika”). Logika matematika ini akan memberika kecermatan dalam proses menganalisa suatu penyataan sehingga dapat menyimpulkan tentang kebenaran dan kesalahan dari sebuah pernyataan.

Cara pandang seseorang dalam menganalisa suatu pernyataan dapat dilihat dari pola hubungan pendukung pernyataan dan pembantah dari penyataan. Karena itu akan menjadi hal yang sangat penting untuk mengetahui dari mana asal munculnya penyataan tersebut.

 

Sumber gambar: http://4.bp.blogspot.com/-hA6b5u1E1r0/VbwRTjt6y5I/AAAAAAAAAws/kDryJfacW8c/s1600/Anak%2BCerdas%2BMatematika%2BLogis.jpg