Cantik, manis, dan istriable.

Tiga kata tersebut setidaknya bisa menggambarkan sosok yang memiliki nama lahir Sonya Ekarina Sembiring (Sonya Depari). Ya. Sonya Depari menjadi buah bibir di media sosial. Bukan karena parasnya yang ayu, tapi karena kelakuan negatifnya.

Kisahnya dimulai pasca Ujian Nasional 2016 kemarin. Sonya yang notabene baru saja selesai mengikuti UN turut melestarikan kebudayaan selebrasi dengan konvoi dan corat–coret seragam. Kebiasaan macam ini sebenarnya sudah lumrah di kalangan anak-anak SMA. Selain sebagai cara untuk mengungkapkan kepuasan, kebiasaan diatas dirasa paling normatif dibandingkan dengan selebrasi ”ngangkang” ala Cristiano Ronaldo atau meminta tanda tangan mantan sebagai kenang-kenangan.

coret seragam via beritagar.id
Coret seragam via Beritagar.id

Tatkala sedang konvoi, ia dicegat oleh Polwan yang sedang menjaga lalu lintas. Saat itu Sonya mengaku sebagai anak jenderal (Irjen. Pol. Arman Depari) untuk menakut–nakuti polwan tersebut. Perlu diketahui bahwasannya Irjen. Pol. Arman Depari merupakan salah satu Deputi Pemberantasan BNN (Badan Narkotika Nasional). Kejadian tersebut sempat terekam kamera salah satu awak media lokal. Sontak saja, kasus tersebut ramai di media sosial.

Senjata Ampuh Saat Kena Tilang

Mengaku “anak jenderal” mungkin-mungkin ya-sekali lagi-mungkin, menjadi opsi paling menarik untuk menakut–nakuti polisi yang akan menilang daripada kita mengaku anak Haji Lulung.  Kisah Sonya Depari menggambarkan betapa bangsa kita masih terpaku pada istilah Somalia “Ente, Anak Siapa?” Hal ini mengindikasikan jika bangsa ini tak bisa lepas dari tebang pilih dalam kacamata hukum. Bukti valid dari pernyataan ini adalah Sonya Depari yang dibiarkan melanjutkan perjalanan dengan aman, tentram nan sentosa.

Mengutip pepatah Bojonegoro,“Lebih baik buat beli Ledre daripada infaq jariyah 50 ribu ke polisi”. Di beberapa daerah lain hal seperti ini juga acap kali terjadi. Well, beberapa orang lebih memilih mengaku keponakan, cucu, cicit, udeg–udeg pejabat daripada setoran ke pengena jas baju berbintang.

The Power Of Social Media

Kembali ke balada manis Sonya Depari, mungkin saya bukan satu–satunya orang di republik ini yang tahu kisahnya melalui sosial media. Cerita Sonya Depari begitu cepat menyebar di jagat sosial media mulai dari youtube, instagram, facebook, twitter, friendster, mig33, mxit, (Menurut BMKG, tiga sosial media terakhir sedang dalam kondisi koma pasca serangan negara api).

Media Sosial dalam genggaman via Maxmanroe.com
Media Sosial dalam genggaman via Maxmanroe.com

Hal ini menunjukkan bahwasanya pengguna sosial media kita semakin cerdas dan cepat menerima berita. Apalagi jika beritanya beraroma dramatis macam sinetron Anak Jalanan. Anehnya, seketika itu juga banyak orang yang menggunakan aji mumpung dengan membuat akun anonim Sonya Depari di Instagram. Bahkan saya harus scrolling dari atas ke bawah untuk menemukan akun asli milik Sonya Depari, walaupun akhirnya tetap tidak ketemu. Glodak!

Merujuk pada kecerdasan berlebih para pengguna medsos, kasus Sonya juga tidak lepas dari fenomena meme–meme kreasi anak negeri. Ratusan aktivis meme berlomba membuat meme gadis medan tersebut. Tak pelak, nama Sonya Depari semakin menjulang tinggi sebagai trending topic media.

Catut Nama Jadi Trend Baru

Hasil ikhtiar dan semedi saya menyebutkan bahwa Sonya memang masih memiliki hubungan dengan Arman Depari. Namun, hubungan mereka bukanlah ayah dan anak. Melainkan keponakan. That’s right. Keponakan.

Pada dasarnya banyak yang dapat diambil hikmah dari Kasus Sonya, termasuk metode “catut nama” yang hari ini sedang menjadi tren di khalayak. Pencatutan nama presiden Jokowi dalam kasus Freeport hingga catut nama Sonya adalah serangkaian bukti tren tersebut.

Jikalau metode catut nama ini terus–terusan dilakukan akan berbahaya bagi keamanan banyak orang. Saya sendiri juga merasa khawatir dengan nama baik saya. Bisa saja nanti tetiba Maudy Ayunda atau Pevita Pearce mencatut nama saya atas kelahiran anak mereka. Meminjam istilah Orang Kepulauan Kangean, “Angge–angge orong–orong, ora melu gawe melu ngemong” yang berarti tidak ikut membuat, tapi ikut merawat.