Review Film Finding Forrester

Sutradara : Gus Van Sant
Penulis : Mike Rich
Tanggal Rilis : 19 Desember 2000 (USA)
Jender : Drama
Penghargaan : 4 wins dan 8 nominasi
Pemain : Sean Connery, Rob Brown, F. Murray Abraham, Anna Paquin

 

Menyoal Bronx : Tempat Biasa yang Melahirkan Orang Luar Biasa

Cerita dibuka dengan penampilan Rapper di awal film. Mengesankan scene yang tidak berguna. Jika ditelaah lebih jeli, anda akan menemukan citra khas dengan adanya rapper di awal film ini.

Malam hari saat Jamal pulang dari apartemen Forrester, sebuah mobil polisi lewat di sebelahnya. Jamal juga berkata: “Sulit hidup di sebuah tempat dimana polisinya tak mau pergi bahkan saat malam hari”.

Bronx, tempat dimana peristiwa-peristiwa itu terjadi. Bronx adalah salah satu diantara 5 borrough di New York City (NYC). Jika Manhattan dianggap sebagai pusat kemegahan NYC, sebaliknya, Bronx adalah pusatnya kulit hitam, kriminalitas, kumuh, miskin dan setumpuk image negatif lainnya.

Jamal dan Sahabat Rahasianya

Jamal Wallace seorang anak muda berkulit hitam yang tak pandai di bidang akademik namum memiliki kelebihan di bidang oleh raga bola basket. Dengan prestasinya itu ia mampu masuk ke sekolah swasta dan mendapatkan beasiswa.

Suatu hari Jamal ditantang oleh teman-temannya untuk masuk ke dalam sebuah apartemen yang dihuni oleh seseorang misterius. Sosok misterius itu selama bertahun-tahun tak pernah keluar apartemen. Ia hanya mengamati kondisi sekitar apartemen dari balik jendelanya.

Berawal dari tantangan itulah Jamal akhirnya bersahabat dan berguru kepada sang sosok misterius yang kemudian diketahui sebagai Wiliam Forrester. Ia adalah penulis ternama yang hanya sekali menerbitkan tulisan kemudian mengurung diri dalam sebuah kamar apartemen. Persahabatan dan proses pembelajaran antara Jamal dan Forrester berlangsung dengan persyaratan bahwa Jamal tak boleh sekalipun dan kepada siapapun menceritakan tentang keberadaan Forrester di sana.

Setelah berada di sekolah baru dan berguru pada Forrester, prestasi Jamal berangsur membaik bahkan menonjol diantara teman-teman sekelasnya. Kemampuannya yang terlalu menonjol memunculkan kecurigaan Crawford, guru di sekolah barunya itu.

Dalam perlombaan menulis disekolahnya, Jamal mengajukan tulisan dengan judul “A New Session Of Faith Perfection”. Idenya diangkat dari tulisan Forrester yang pernah ditulis pada tahun 1960. Tulisan yang amat bagus itu semakin membuat Crawford penasaran dengan kemampuan Jamal. Ia kemudian mengumpulkan bukti-bukti bahwa tulisan Jamal memiliki kesamaan dengan paragraf pertama tulisan Forrester tulisan yang dimuat oleh majalah New York pada tahun 1960. Jamal akhirnya diancam akan dikeluarkan dari sekolah atas ulahnya itu.

Jamal mendapat pertolongan dari salah seorang komite sekolahnya agar ia tidak dikeluarkan dari sekolah dengan syarat ia harus membawa sekolahnya sebagai juara dalam liga basket. Sayangnya tim basket Jamal mengalami kekalahan. Ia kemudian meminta bantuan kepada Forrester melalui surat untuk membantunya keluar dari kasus plagiasi yang menimpanya itu.

Saat pengumuman pemenang perlombaan menulis, Forrester tiba-tiba muncul. Ia naik ke atas mimbar kemudian berpidato dengan berbekal secarik kertas. Tulisan yang dibacakannya itu sangat mengesankan. Semua orang yang hadir memuji Forrester atas tulisan yang amat menyentuh itu.

Namun ada hal yang lebih mengejutkan. Tulisan yang dibacakan oleh Forrester adalah surat permintaan bantuan yang dikirimkan oleh Jamal kepadanya. Ternyata surat Jamal itu menggangu hati Forrester, menggugah kesadarannya untuk kembali menjalani kehidupan di tengah-tengah masyarakat.

Di akhir pidatonya, Forrester mengklarifikasi kasus yang menimpa Jamal. Ia mengungkapkan bahwa Jamal tidak mencantumkan nama William Forrester karena telah terikat janji. Jamal tidak akan menceritakan perihal Forrester kepada siapapun. Atas pidato Forrester Jamal terbebas dari ancaman dikeluarkan dari sekolah.

Akhir cerita, William Forester menjalani hidup normal seperti manusia pada umumnya. Ia pulang ke kampung halamannya di Swedia. Jamal pun menjalani hidup sebagai siswa biasa yang semakin berkembang bakat menulisnya. Hingga pada suatu masa ada berita bahwa Forrester telah meninggal di Swedia. Forrester mewariskan seluruh hartanya kepada Jamal, berharap Jamal menjadi penulis hebat sepertinya.

Inspirasi

Rasanya sudah menjadi karakter Gus Van Sant (juga sutradara Good Wills Hunting) membuat film-film dengan setting tempat kemiskinan yang melahirkan seseorang dengan bakat luarbiasa. Seringkali bahkan hampir semua tokoh besar lahir dari kehidupan yang memilukan.

Film ini menyajikan scene yang cukup detail sperti pembahasan mengenai penggunaan konjungsi “dan”. Dalam konteks penulisan ilmiah, kata “dan” memang tidak boleh diletakkan di  awal kalimat. Tapi dalam tulisan sastra, hal ini sering diabaikan. Misalnya syair “Dan mungkin bila nanti kita akan berjumpa lagi,” dalam lagu berjudul mungkin nanti milik Peterpan justru menegaskan dan menonjolkannya diantara kalimat-kalimat lainnya.

Tak hanya soal tulis-menulis, film ini juga nyentil budaya maintream soal konsep pekerjaan. Penghasilan tukang parkir yang tidak menentua tak dianggap pekerjaan olehibu Jamal. Sama halnya dengan banyak orang di Indonesia, di Amerika pun yang bernama pekerjaan adalah kegiatan tetap dengan hasil uang yang tetap pula. Kegiatan yang menghasilkan 50 ribu hari ini dan 100 ribu besok tidak dianggap sebagai pekerjaan. Sebuah anggapan yang tak berbeda dengan harapan ibu terhadap anaknya di pelosok pedesaan di Nganjuk sana.

Berikut beberapa kalimat menarik yang ada di film ini:

“And you believe that?” kata Jamal.

“No, but it’s like praying,” jawab Forrester.

Mempercayai sebuah mitos ibarat berdoa. Percayalah pada mitos yang baik-baik.

 

Do you know what people are most afraid of? What they don’t understand. When we don’t understand, we turn to our assumptions

Objektifitas hanya akan terjadi ketika seseorang memiliki pengetahuan.

 

A lot of writers know the rules about writing… but don’t know how to write

Kebanyakan penulis tahu aturan menulis… namun tidak tahu cara untuk menulis. Menulis bukan persoalan teori tapi praktek.

 

Tulislah apa yang kau rasakan bukan apa yang kau pikirkan.

Menulis harus dimulai dengan hati. Ketika tulisan sudah selesai baru gunakan pikran sebagai pisau untuk proses editing.

Komentar

Film ini memiliki alur dan ide cerita yang unik dan cukup rumit.  Menyuguhkan scene-scene yang mengejutkan pada timing yang tepat. Menonton film ini akan menggugah rasa penasaran dan haru. Akan tetapi ada beberapa kelemahan. Pertama, kalimat Forrester, “Would be no question about me, May family or why Three was only one book,” mengesankan bahwa Forrester adalah sosok yang sangat kaku dan tidak menginginkan seorangpun masuk ke dalam hidupnya. Sebuah kontradiksi dengan fenomena singkatnya proses perkenalan yang berujung pada persahabatan antara dirinya dengan Jamal.

Kedua, mengenai karakter Jamal. Sebagai anak jalanan yang hidup di Bronx dengan teman-teman berandalan. Jamal justru seorang anak yang nyeleneh, pendiam dan sopan di tengah pergaulan berandalan. Bahkan cerita sempat mengalami inkonsisteni, di akhir film Jamal justru arogan. Ia diberi pilihan untuk “meminta maaf di depan kelas” atau “membuktikan bahwa dia dapat ijin dari penulis aslinya”. Dia justru memilih tidak melakukan keduanya.

Ketiga, mengenai karakter Forrester. Dia adalah seorang yang merasa trauma, tak mau kritik terhadap tulisannya. Dalam keputusasaan yang amat mendalam dan berlangsung lama, kurang realistis rasanya jika jika ia justru melakukan hal yang tidak ia sukai seperti mengritik dan mencoret-coret buku harian Jamal. Sebuah perbuatan yang teralu mencampuri kehidupan orang lain.

Bagaimanapun, film ini sangat menginspirasi dan memotifasi anda yang sedang memulai untuk belajar menulis.