Entah, apa yang harus dan ingin saya tuliskan, saya sendiri juga tidak tahu. Otak saya sedang pesing-pesingnya. Nahasnya, saya ini bukan Om Iwan yang tersohor itu. Beliau itu, meskipun otaknya sedang blank, masih saja mampu menelurkan karya hebat. Lagu Manusia Setengah Dewa itu dibuat ketika beliau sedang kehabisan ide lohh. Baru tau ya? Sama.

Semenjak tulisan terakhir beberapa waktu yang lalu, saya kehilangan ide untuk menulis lagi. Mungkin, ini yang dikatakan oleh para empu dahulu, bahwa pada suatu masa, kita akan mendapati puncak atau klimaks menulis. Klimaks yang terjadi biasanya karena penuangan energi berlebih untuk mengakhiri tulisan tersebut. Efek sampingnya dapat membuat kita kehilangan beberapa ide-ide segar untuk menulis lagi. Dan, mungkin, di Kuch Kuch Hota Hai, saya mengalami titik klimaks. Padahal, sebenarnya saya ingin mengalami klimaks di tempat dan situasi lain. Huhh!!

Jujur saja (jangan ditambah “ku tak mampu”), dapat dikatakan bahwa saya ini orang yang plin-plan. Dahulu pernah menuliskan tentang bagaimana mendapatkan inspirasi menulis, sekarang malah menyebar novum legalitas maklumat tidak menulis. Sering obrak-obrak para pejuang Avepress, tapi saya sendiri jarang menulis. Ya, mau gimana lagi. Sudah kodratnya laki-laki selalu salah.

Nahh. Berbicara tentang stereotip cowok selalu salah, saya teringat peristiwa tadi malam. Di tengah derasnya hujaman air hujan, tetiba saya rindu akan seseorang yang sedang jauh disana. Rindu dan hujan memang sama. Keduanya datang tanpa permisi dan beraninya main keroyokan. Akhirnya saya coba merendah, mengalahkan ego kelakian untuk menyampaikan kerinduan yang tengah saya alami. Begini kira-kira ilustrasinya,

Saya : Aku kangen kamu.
Dia : Tumben?
Saya : Hehe. Piye meneh.
Dia : Kenapa emangnya? Ada yang disembunyiin yaa??
Saya : Gak ada kok.
Dia : Yowes, aku gak kangen berarti.
Saya : Lha kok gitu?
Dia : Salah sendiri kangen.
Saya : @#$%&*???? (sambil melongo, geregetan, mangkel dan semakin kangen)

Ini yang saya maksudkan tadi. Entah memang sudah hobi atau memang doktrin yang terlanjur melekat, kata “salah” sepertinya menjadi kosakata paling familiar di otak cewek-setelah “terserah, “sembarang”, dan “Y”. Tapi yang namanya cinta, ilustrasi diatas adalah multitafsir. Nyatanya efek yang ditimbulkan tak hanya mangkel dan geregetan, tapi ada rasa rindu yang semakin membuncah. Sedangkan, bagi mereka yang belum pernah jatuh cinta, eh-salah-salah, semua orang pernah jatuh cinta, tapi lebih banyak yang tidak tersampaikan atau putus di tengah jalan. Saya ganti, mereka yang tidak pernah menjalin hubungan pasti akan berceloteh “alay”, “lebay”, dan sejenisnya.

Akhirnya, karena mendapatkan respon seperti itu, saya turut andil dalam forum menggalau ria bersama sahabat. Ceritanya, sahabat-sahabat saya juga sedang mengalami hal yang sama. Entah sedang rindu-rindunya atau tengah manja-manjanya, yang jelas mereka sedang bernyanyi lagu-lagu galau sembari genjrang-genjreng gitar. Masuklah saya sebagai pemilik suara terbaik nomor empat dari lima orang penghuni. Saya berani saja ikut nyanyi, toh yang suaranya paling gak enak juga ikut. Minimal saya ndak jadi posisi terbawah. Andai si nomor lima gak ikut, saya tetap akan nyanyi-dalam hati. Dari dahulu saya tidak suka menjadi atau di posisi bawah, saya penangan orangnya. Bagi saya, yang boleh dan harus di bawah hanyalah wanita. Hallah!!

Jangan berperasangka buruk dulu, forum tersebut sifatnya insidental. Gubuk kami (yang lokasinya di perumahan) lebih sering melaksanakan forum-forum kajian intelek. Para sahabat saya itu, mereka adalah orang pinilih. Ada yang titisan Batara Indra, ada yang segaris keturunan dengan Syekh Jumadil Kubro, ada yang masih satu trah dengan Nyai Ageng Pinatih, ada pula yang mengaku sebagai Ronggolawe jilid II.

Bagaimana bisa rumah sampean diisi oleh orang-orang sakti semacam itu? Ada dua alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, forum kajian yang sering kami lakukan memiliki fokus pembahasan yang mendalam. Karena saking mendalamnya, hasil kajian senantiasa dimanunggaling oleh orang-orang tersebut. Mereka adalah orang-orang hebat yang untungnya tak keblinger. Karena mampu mempertahankan nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik.

Kedua, karena memang mereka ini masih labil. Maklumlah orang Indonesia, jenis manusia shock culture paling rendah tingkatannya. Kemarin-kemarin, sewaktu forum diskusi membahas sejarah filsafat barat, mereka juga ngaku-ngaku sebagai pewaris sah pendahulunya. Ada yang memanjangkan jenggot agar dikira Aristoteles, ada yang berganti rokok dengan cerutu agar dianggap titisan Freud, saking ekstremnya-ada pula yang memotong rambut sampai botak agar dipanggil Foucault.

Mas-Mbak-Kang-Yuk-Pakdhe-Budhe-Eyang-Yut, andai sampean-sampean tau, saya sebenarnya ingin mengembalikan lagi ruh tulisan ini ke judulnya. Saya juga ingin masuk dalam kategori khoirunnas anfa’uhum linnas. Tapi, karena status otak saya sedang 404, usaha tersebut sedari tadi tidak membuahkan hasil. Makanya ngelantur sana-sini.

Karena memang tidak ada yang penting, saya akhiri sajalah. Lagian tulisan seperti ini mana bisa terbit di media semegah Avepress. Ini kan media tingkat dewa, yang menggabungkan idealitas dan intelektualitas. Sementara saya ada di pihak lain, tepat di luar garis himpunan, jangankan di koordinat x, koordinat y saja mustahil. Saya penulis fiktif, yang menulis berdasarkan pengalaman. Orang empiris katanya, kadang-kadang malah ditambahi empiris-imajinatif. Saya mana tahu yang begitu-begitu. Dulu waktu kuliah cuma diajari cara nyangkul syari’ah dan matun yang tuma’ninah.

Yasudah, selamat melanjutkan aktivitas seperti sedia kala. Jangan lupa bahagia yaa!