pemberontak-lian-agustinaOleh Lian Agustina

Di balik batangan-batangan besi berkarat nampak jelas bagiku seorang perempuan depanku yang lemah seperti ku saat ini, dan tak kuasa untuk menolak kenyataan pahit di dalam hotel prodeo. Kepekatan, kegelapan, kesunyian serta kekerasan adalah sahabat sejati ku dalam mengarungi hidup. Entah aku juga bingung, apa yang hendak dicari manusia selain harta dan kekuasaan. Keduanya benar-benar mendominasi alam raya ini. Seketika juga terbesit di otakku yang mulai kumal dengan pertanyaan-pertanyaan gila. “Jangan-jangan sebentar lagi Tuhan juga dapat dimaterikan….”

“Ah…apa peduli terhadap mereka…Tak satu pun dari mereka yang mau menengokku di sini. Jangankan menengok, melirikku saja mereka jijik….”

Pandangan mataku mulai terseret ke arah cela kecil di sebelah kanan tubuhku… Nampak samar-samar sang mentari tua yang sepertinya telah lelah bergantung di atas ufuk barat, dan seakan-akan ingin segera menenggelamkan tubuhnya di balik kegelapan.

Entah apa yang menjadi kesalahannku sehingga aku bisa sampai di dalam ruang yang selama ini dianggap tempat paling hina di dunia ini… Seketika juga nafasku terhenti dan mataku terbelalak… Otakku mulai meraba-raba kembali kejadian yang menyesatkanku ke tempat nista ini… Delapan purnama sudah ku lewati hidupku bersama kesunyian dan ketidakadilan… Sesekali aku bertanya “Siapa aku sebenarnya ? Untuk apa aku hidup, kalau hidupku selalu ditunggangi orang lain?”.

Ini kedua kalinya hidupku melebur dengan jeruji besi. Aku bukan pemberontak… Kata itulah yang selalu menghiasi otakku sepanjang hari.

*

Delapan bulan yang lalu.

Aku adalah korban kekerasan dari majikanku. Sehingga saat ini aku mendekam di sini lagi. Apa salahku? Saat matahari memberikan sinarnya kepada bulan di pertengahan Juni 2006 aku mengais uang dengan membereskan perlengkapan kristal majikanku yang katanya adalah seorang pelukis.

Malam itu pesta telah usai, seluruh ruang berantakan dan seperti kapal pecah. Botol minuman keras hingga bungkus ekstasi masih tercecer di atas meja. Satu persatu aku mulai membereskan perabotan kristal yang sepekan lalu dibawa majikanku dari Itali, oleh-oleh pameran dari negari pizza. Majikannku bernama Beni, pria lajang 30 tahun yang sangat dingin. Aku nyaris tidak pernah berkomunikasi dengannya kalau tidak dia yang mengajak bicara.

“Ana….segera kau bereskan perabot kristal kesayanganku…Awas, jangan ada yang tergores apalagi kalau pecah!” teriaknya di balik pintu kamarnya.

“Baik Tuan, saya akan bereskan,” balasku dengan nada lirih dan rendah, aku mulai ketakutan dia mulai kehilangan kesadarannya karena Jack Daniel’s yang diteguknya di depan pintu kamarnya.
Baginya minuman adalah teman dan kekasih sejatinya, untuk mencari inspirasi lukisan yang kata orang dia adalah pelukis aliran naturalisme.

Dalam keadaan yang seperti itu, tak jarang tangannya mendarat di wajahku. Tapi tumben, sudah seminggu lebih tangannya tidak menyapukan gamparan. Karena ketakutan mendapatkan hadiah gamparan lagi, kubereskan perabot tadi dengan hati-hati.

Kriiiing…..kring……kring…..
Sial… Aku terhempas kaget mendengar teriakan telpon di meja sudut itu…
Alamak… Mampus sudah nasibku hari ini…

Praaaaaaaang….
Aku menjatuhkan gelas kristal itu. Beni berteriak sambil berlari tanpa menanyakan apa yang jatuh. Seolah-olah dia sudah tau apa yang telah kujatuhkan.

“Aaaaannnaaaaa… Bangsat … Anjing… Kurang ajar kamu …” umpatannya mulai menyapaku, semenit lagi pasti tangannya yang akan menyapa wajahku.

“Maaf tuan, saya gak sengaja, ampun tuan, maaf tuan,” kilahku walaupun mustahil dia tidak menamparku.

Ternyata apa yang kudapatkan? Lebih dari tamparan. Hantaman tangannya yang menyerupai bola besi mendarat di perutku. Dia menarik bajuku dan menyobekknya di area dada. Rokok mulai diayunkan bak kuas dan tubuhku adalah kanvasnya..

Teriakankku tak digubrisnya…

Dia bertambah berang melempar tubuhku ke arah meja sehingga mematahkan keheningan malam. Aku mencoba melarikan diri dengan berlari ke arah pintu belakang. Dia menyusulku dengan langkahnya yang tiga kali lipat lebih panjang dari langkahku. Aku diseretnya, tanpa sadar di depan mataku sudah nampak jelas pisau yang akan diarahkan ke perutku. Karena aku sangat ketakutan, sekuat tenaga aku menghempaskan tubuhnya yang menyerupai binaragawan itu. Namun, apa yang terjadi Tuhan, pisau itu menususuk perut majikanku.

“Tuhan… tolong aku… aku tidak bersalah… Aku hanya ingin menyelamatkan nyawaku. Ibu ku masih digerogoti kanker otak di rumah… Aku masih ingin hidup dan menjaga pahlawanku..”

Nampaknya, Tuhan tidak mendengarkan doaku. Beni pun menjerit dan sambil terseok-seok dia meraba saku celana dan mengeluarkan telpon selularnya.

“Polisi… pembantu saya ingin mencoba membunuh saya. Tolong datang ke Jalan Besi No. 13 cepat pak sbelum dia kabur,” lapor Beni dengan tergopoh-gopoh.

Aku pun mulai berkemas, karena aku tidak mau dipenjarakan. Aku tidak melakukan kesalahan. Namun, nampaknya aku tidak beruntung, polisi sudah mengepung rumah. Aku pun ditangkapnya, aku sengaja tidak melakukan perlawanan. Karena seperti sebelum-sebelumnya, pastinya mereka tidak akan menggubrisku. Karena aku cuma seorang kacung, jongos, babu. Beni masih sempat meneriakiku dengan kata, “Kau adalah pemberontak, kurang ajar,gak tau terima kasih berani-beraninya kau menusukku.”

Hukum pun juga tak bergeming dan buta. Aku adalah korban ketidakadilan hukum. “Dimana letak keadilan, hanya karena aku miskin, aku perempuan, aku marjinal, aku membela diri aku dikatakan pemberontak dan tidak mendapatkan keadilan,” gumamku saat hakim mengayunkan palunya dan memvonisku dua tahun penjara dengan tuduhan percobaan pembunuhan.

*

Satu setengah tahun yang lalu, aku juga menyandang predikat sebagai pemberontak.
Aku adalah seorang buruh di perusahaan konveksi. Perusaan itu mempekerjakan sekitar 1200 karyawan perempuan. Dan mereka adalah buruh kerah biru 1 . Aku sudah mengabdikan diri di perusahaan ini lebih dari 10 tahun. Entah mengapa tiga tahun terakhir perusahaan mulai bermain-main dengan karyawannya.

Staf yang ada di kantor juga satu persatu mulai diberhentikan dengan alasan efisiensi, sekitar 200 buruh pabrik juga diberhentikan dengan alasan yang tidak jelas.

Di suatu pagi, saat aku mulai mengayunkan pedal dinamo mesin jahit. Aku melihat pemandangan itu lagi. Pemandangan yang bagiku tidak manusiawi. Teman baikku Ratmi mendapatkan bonus jambakan dan tamparan dari mandor, karena kesalahannya yang sepele. Mandor itu bernama Kastani, yang sikapnya seperti eksekutor tembak mati.

“Tapi, pak saya kan hanya salah memasang saku, nanti juga bisa diperbaiki,” Ratmi mencoba untuk memebri penjelasan.

“Ini yang bikin perusahaan rugi, kalo ada 10 saja buruh kayak kamu, pabrik ini bisa koleps, paham kam?!?” bentak Kastani.

Ratmi hanya bisa mengiyakan dan meminta maaf. Dalam satu minggu ini ada sekitar 12 buruh yang diperlakukan kasar dan mengalami kekerasan fisik dari mandor.
Hatiku mulai bergejolak, aku tidak bisa terima, karena kami adalah manusia yang juga mempunyain hak untuk mendapatkan kenyamanan dalam bekerja.

“Pak gak boleh seenaknya sendiri dong. Main pukul kana kiri. Bapak tahu kan kita juga belum digaji selama dua minggu?” spontan saya berdiri dan membantah Kastani.

“Itu kesalahan kalian. Banyak omong kamu,” bentak dia sambil menjorokkanku hingga badanku masuk ke dalam kolong mesin jahitnya Santi.

Semua orang mulai ketakutan dan Santi yang menolongku. Santi memang lulusan SMP, tapi dia perempuan yang tegas dan berani.

“An, kayaknya gak bisa didiemin. Hak kita sudah diinjak-injak, kebebasan kita sudah dikekang, dan aku dengar 850 buruh lagi yang akan dipecat.” Bisik Santi ke telingaku. Aku mulai berfikir, memang benar peryataan Santi. Kita ini manusia bukan boneka. Dalam tiga bulan ini kita dipaksa untuk kerja lembur tanpa digaji. Tanpa sengaja aku berteriak sehingga menggema hingga penjuru ruangan kerja yang luasnya hampir dua kalinya luas lapangan bola.

“Kita sudah dibohongi……. Kita sudah ditipu….”

Nampaknya, teriakannku membuat semua orang terperangah dan mandor Kastani mendatangiku untuk menyeretku untuk menghadap pimpinan perusahaan. Setibanya di kantor Pak Erik, pimpinan perusahaan. Saya dihujat habis-habisan oleh Kastani.

“Dia wanita pemberontak pak, buruh yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi, dia menghasut teman-temannya untuk memberontak,” Kastani menjelaskan hingga pembuluh darah yang ada di lehernya nampak sebesar tali tambang.

“Saya kesal pak, karena hak kami selalu diabaikan oleh perusahaan. Dan kenyamanan kerja kami selalu dikekang. Belum lagi dengan kecelakaan teman kami Siti dan Rahma yang kemarin jari tangannya putus karena pemotong yang kurang aman itu,” bantahku kepada Pak Erik.

Ternyata Pak Erik, malah menyalahkanku. Dia mengancam saya untuk tutup mulut dan jangan berkoar di depan buruh yang lain.

“Diam… Kamu tahu apa tentang keadilan, kamu cuma buruh miskin, terima uang beres kan. Kalo kamu masih mencoba mengompori yang lain, taruhannya nyawamu. Paham?!?” Ancamnya sambil mengebrak meja.
Aku keluar ruangan dengan langkah yang pasti. Aku bertambah yakin kita harus menuntut hak kita…

Tiga hari kemudian,

Aku dan Santi berhasil menggalang teman-teman untuk melakukan demonstrasi guna mendapatkan kembali hak-hak kita. Teman-teman sepakat untuk menggalang tanda tangan sebagai bukti kepedulian kita atas permasalahan di lingkungan kerja kami.

Tapi apa yang terjadi? Perusahaan justru mendatangkan 10 pleton polisi untuk melawan 1000 demonstran. Aksi nyaris bentrok. Entah apa yang menjadi penyebabnya, polisi tiba-tiba menyemprotkan gas air mata. Para buruh mulai geram dan melakukan anarkis dengan melempari polisi. Situasi ricuh, aku dan Santi adalah koordinator demonstrasi ini. Dan yang pertama kali diamankan oleh aparat adalah aku. Ternyata Pak Erik menuduku telah menghasut teman-teman.

Ini pertama kalinya aku dibuih dan datang ke pengadilan sebagai tersangka. Tuduhan yang ditimpahkan padaku adalah otak dari provokator. Bantuan hukum yang diberikan SPSI tidak bisa menahan uang suap Pak Erik kepada Hakim. Dengan barang bukti yang alakadarnya, akhirnya untuk pertama kalinya aku dipenjarakan.

*

Aku sungguh bukan seorang pemberontak… Aku hanya korban kekerasan para penguasa bermodal. Bagiku ternyata uang adalah kuasa atas segalanya. Hukumpun terbeli dengan barang yang sering disebut ojir 2 . Yang aku inginkan ku katakan aku tak akan pernah jera untuk berkata tidak bagi ketidakadilan.

nb:

[1] Buruh dibedakan atas dua sebutan Kerah biru dan putih. Kerah biru adalah sebutan untuk buruh yang tidak memiliki keahlian dan pendidikan tinggi. Sebaliknya Kerah Putih adalah sebutan bagi yang memiliki pendidikan tinggi dan keahlian.

[2] Ojir adalah istilah lain untuk menyebut uang

1 COMMENT